Aku, Sintesa dan Terjerumus ke Surga Part II

logo sintesa

via arraziibrahim.com

Ibarat kita naik sepeda, kayuhan demi kayuhan yang akhirnya mengantarkan kita sampai arah tujuan. Begitu juga dengan berdoa, kita harus terus memanjatkannya, setiap waktu. Diringi dengan usaha, ada sebuah proses di dalamnya. Hingga suatu waktu apa yang kita cita-citakan menjadi kenyataan.

Banyak orang bermimpi tetapi hanya sedikit yang mau bangun untuk menggapainya. Kita harus membuat sebuah target, teguh terhadap prinsip, konsisten dalam berusaha namun fleksibel dalam mencapainya.

Kali ini saya akan melanjutkan kisah perjalanan saya, mungkin inilah cara Tuhan dalam mempersiapkan saya untuk masa depan yang lebih bermakna. Mari kita simak.

“Tuhan menaruhmu di tempat sekarang, bukan sebab kebetulan belaka. Orang hebat itu tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata”. -Dahlan Iskan

Sulitnya Menemukanmu!

putus asa

via 500px.com

Sehabis sholat, dengan menyeret koper saya menghampiri rumah orang untuk bertanya. Satu orang tidak tahu. Saya tanya ke yang lainya, orang ini menunjuk ke suatu rumah. Saya hampiri, ini rumah kok sepi, kelihatan tidak meyakinkan.

Saya lanjutkan untuk mencari orang yang meyakinkan, tapi nggak kunjung ketemu. Desa ini sepi banget! Sampai suatu ketika saya sudah capek, dengan sedikit putus asa saya menghampiri dan bertanya kepada penjual bakso di pinggir jalan.

Si ibu langsung menjawab, “itu lo mas yang berpagar hitam, emang nggak ada papan tulisanya mas jadi buat banyak orang bingung”. Saya menengok ke arah yang ditunjuk. Oh my goodness! Berapa kali saya melewatinya.

Ujian Pertama

Setelah sedikit dipimpong tetangga pesantren, akhirnya saya menemukannya. Karena tidak ada plang bertuliskan Pesantren Sintesa, saya pun memberanikan diri untuk masuk. “Assalamualaikum, apakah ini Sintesa?” Salah seorang santri menjawab, “Iya mas, silahkan masuk. Sini, langsung gabung aja”.

Saya melihat mereka –santri sintesa- habis pulang dari piknik. Banyak tas carrier yang bertumpuk, matras dan handphone yang berceceran. Sambil merebahkan tubuh saya ke pilar, saya bermain gadged karena bingung mau ngapain. Sambil berharap cepat diantar ke tempat istirahat karena benar-benar ngantuk.

Ternyata memang terlalu banyak harapan yang tidak menjadi kenyataan. Saya disambut dengan ala kadarnya dan cenderung dicuekin. Saya sudah bermain gadget hampir satu jam, tak kunjung diantar ke suatu tempat yang setidaknya buat menaruh koper atau bisa dibuat terlentang. Is this Sintesa?

Ada satu santri, saya masih ingat sampai sekarang, namanya Ragil. Mungkin hanya dia, satu dari banyak santri yang peka kalau ada tamu yang capek. Ketika saya mau diajak ngobrol sama santri yang lain, dia dengan tangkas mengajak saya menuju kamar. “Sini mas ikut saya, sekalian dibawa ya semua barangnya”.

Senyum merekah di bibir saya. Harusnya dari tadi kek nganterinya. Haha! Sudah sampai kamarpun ternyata full ditempati santri senior. Terpaksa harus tidur duduk guys. Nggak apa-apa udah biasa hidup di jalanan, anggap aja cobaan awal dari sebuah perubahan.

Sebenarnya masih ngantuk sih, nggak tau karena cuaca atau kamarnya yang terlalu banyak dihuni orang. Membuat saya merasa gerah dan nggak betah untuk melanjutkan tidur. Badan ini emang harus dipaksa untuk bangkit, meskipun itu sulit. Alay! Mari kita mandi dan gosok gigi guys.

blogger

via pixabay.com

Setelah mandi, saya disuruh untuk memilih meja untuk menaruh laptop. Sebelum nanti ramai dan nggak kebagian kabel LAN, kata senior. Ini merupakan adat dari Pesantren Sintesa, setiap santri akan menempati tempat duduk yang sama selama pembelajaran satu tahun, kecuali ada kesepakatan kelompok.

Sekarang, saya masuk di fase adaptasi lingkungan, budaya dan metode pemblajaran. Bismillah.

Adaptasi

Tentunya setiap tempat baru mempunyai khas nya masing-masing, alangkah elok kalau kita bisa memfilter budaya yang baik sebagai tambahan kazanah akhlak dan mengubur budaya yang tidak patut untuk diteladani.

Sudah dua hari saya mendiami Pesentren Sintesa dan setidaknya sudah menemukan pola rutinitas yang akan saya jalani selama setahun mendatang. Semoga kehadiran saya di tempat baru ini membawa keberkahan. Amin!

via 500px.com

via 500px.com

Inilah rutinitas saya sebagai santri Pesantren Sintesa.

Pagi

• 04.30-04.50 Sholat subuh berjamaah
• 04.50-06.00 Menghafalkan Al-Quran dengan metode talaqqi.*
• 06.00-07.30 Mandi dan cuci baju
• 07.30-08.00 Sarapan Berjamaah.
• 08.00-09.00 Sholat dhuha dan belajar mandiri (bebas)
• 09.50-10.50 Materi internet marketing
• 10.50-11.40 Tidur siang (Qailullah)

Siang-Sore

• 11.50-12.15 Sholat dzuhur berjamaah
• 12.15-13.00 Makan siang berjamaah
• 13.00-14.50 Materi internet marketing
• 14.50-15.20 Sholat Ashar berjamaah
• 15.20-15.50 Kultum
• 16.00-17.30 Belajar mandiri (bebas)

Malam

• 17.40-18.10 Sholat maghrib berjamaah
• 18.10-18.50 Kegiatan membaca Al-Quran
• 18.50-19.10 Sholat isya berjamaah
• 20.40-22.00 Belajar mandiri (bebas), cuci baju dll
• 22.00-04.00 Tidur

Itulah rutinitas yang saya lakukan sampai satu tahun mendatang. Lumayan padat kan? Haha! Butuh waktu untuk adaptasi guys. Keputusan saya cukup tepat untuk datang dua hari lebih awal. Dan kamu tahu apa yang saya rasakan?

Susah tidur kakak! Ini mah ngalahin full day school rancangan Menteri Pendidikan yang sampai membikin heboh Indonesia Raya beberapa waktu lalu.

Sambil merenung saya mengingat suatu pesan yang indah, “Tuhan menaruhmu di tempat sekarang, bukan sebab kebetulan belaka. Orang hebat itu tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata”.

Emang benar, quote dari Bapak Dahlan Iskan tersebut sangat relevan dengan keadaan saya sekarang. Setidaknya untuk menghibur diri. Mungkin juga akan saya gunakan sebagai tendensi, mulai kini hingga nanti.

Sambil menunggu teman baru yang belum datang saya gunakan untuk nonton youtube, nonton film maupun baca buku. Cepatlah datang kawan, biar kita lebih cepat mulai proses pembelajarannya. Mode semagat garis keras sedang aktif!

Ditodong Menjadi Leader Kelompok

leader

via 500px.com

Hari demi hari saya lalui di Pesantren Sintesa, sudah dua minggu saya di sini. Mulai terbiasa dengan rutinitas yang ada. Tidak ada lagi kata nggak bisa tidur nyenyak. Perlahan namun pasti, mulai terjalin keakraban diantara kami. Teman satu angkatan. Dari berbagai wilayah Indonesia tercinta.

Semangat mendadak bergelora ketika mas Ibrahim Vatih –Pengasuh Pesantren Sintesa- memanggil, untuk mengumpulkan kami. Dengan ramah beliau memperkenalkan diri, dilanjutkan mengenalkan sejarah berdirinya Sintesa dan tanpa basa basi langsung membentuk belajar bagi kami.

Saya termasuk dalam angkatan 4. Total ada 34 santri. Dengan cekatan mas Vatih membagi total santri tersebut menjadi empat kelompok, dengan per kelompok diisi sebagain delapan dan sebagian sembilan orang. Yang nantinya dua kelompok akan diberikan satu coach untuk melatih.

Saya masuk dalam kelompok yang berisikan orang-orang keren di dalamnya. Antara lain : Niko (Sarjana Perbankan Syariah) dari Banjarmasin, Purwanto (Internet Marketer) dari Pubalingga, Si konyol Nanang Budi dari Ngawi, Oki (graphic designer) dari Jogja, Si struggle Arya dari Balikpapan, Ikhsan (santri tulen) dari Jakarta Timur dan Rifai (hiker dan traveler koboy) dari Solo.

Lengkap sudah, delapan orang yang nantinya akan memberi warna baru masa depan Indonesia. Setelah pembentukan kelompok, kami mengadakan rapat untuk memilih ketua yang nantinya akan dilaporkan kepada mas Vatih.

Seperti yang sudah saya duga, pemilihan ketua kelompok dilakukan dengan cara yang paling kuno, aklamasi. Padahal kami belum saling kenal dan memahami satu sama lain, namun dengan entengnya ada salah satu oknum, menunjuk temanya yang lain sebagai Ketua, saat ada satu orang sudah ditunjuk. Mudah ketebak bukan? Yang lainya pasti mengikuti.

Mereka paham betul, kalau leader itu merupakan wajah dari sebuah kelompok. Makanya ketujuh orang itu memilih yang terganteng dari keseluruhan anggota. Dengan penuh kesadaran dan kerendahhatian mereka melirik ke satu tujuan. Yup, secara sepihak saya ditodong untuk menjadi leader. Keputusan cerdas guys. Haha!

Tanpa bisa berargumen banyak, saya terima amanah itu. Itung-itung sebagai pembelajaran. Namun saya sangat sadar, leader itu nantinya akan memikul tanggung jawab yang paling besar. Ibarat driver, akan dibawa kemana para penumpang ini, tergantung pada keputusan saya. Semoga Allah menunjukan jalan dan memberkati setiap langkah yang diambil. Amin!

Pemilihan ketua kelompok sudah dilaksanakan dan mas Vatih sudah merestuinya. Walaupun sewaktu-waktu amanah ini bisa berpindah tempat. Namun untuk saat ini akan saya jalani dan hadapi dengan apa adanya.

via pixabay.com

via pixabay.com

Inilah petualangan baru saya. Terjerumus ke dalam surga. Yang penuh ilmu, kekeluargaan, pembelajaran, pengalaman dan tempaan semuanya dibungkus dengan cara sederhana yang penuh dengan canda namun sarat akan makna.

Semoga bermanfaat!

Leave a Reply