Catur, Sedih dan Bangga

via pixabay.com

Catur adalah permainan pikiran yang dimainkan oleh dua orang dengan papan berisi enam belas bidak untuk satu orang, yang antara lain: pion, benteng, kuda (knight), gajah (bishop), ratu dan raja.

Hari kemerdekaan merupakan hajatan besar bangsa, dimana banyak acara diselenggarakan untuk memeriahkannya. Berbagai elemen masyarakat, dari kota sampai desa, instansi pemerintah, swasta, sekolah bahkan anak TK pun tidak mau kalah untuk ikut ambil bagian.

Karnaval, baris-berbaris, kompetisi olahraga dan berbagai perlombaan rakyat digelar.

Mewakili Sekolah

via 500px.com

via 500px.com

Saya sekolah di SMAN 1 Kediri, Jawa Timur. Sekolah saya dipandang sebagai salah satu sekolah favorit di kota kami. Jadi apapun lomba yang kami ikuti pastinya akan banyak menyedot perhatian dari sekolah-sekolah lain. Sedikit sombong. Hehe!

Nah, kali ini saya akan menceritakan pengalaman tentang mewakili sekolah dalam kompetisi catur antar SMA se-karisidenan Kediri.

Disekolah saya, catur tidak banyak digemari layaknya olahraga lainya. Entah karena malas mikir dan duduk lama ataupun tidak minat sama sekali. Padahal olahraga pikiran ini banyak mengandung filosofi dalam berbagai aspek lini kehidupan.

Oleh karena itu, yang ditunjuk sebagai wakil sekolah dalam kompetisi catur cuma beberapa orang yang menggemarinya saja dan itu hanya empat orang, saya salah satunya. Tanpa proses seleksi. Pediiih!! Walaupun dalam hati senang karena nggak perlu susah-susah nyingkirin banyak orang.

Proses Pendaftaran

via pixabay.com

via pixabay.com

Hal yang paling disukai oleh anak jaman dahulu atau mungkin juga sekarang adalah mendapatkan dispensasi. Meninggalkan pelajaran kelas dengan cara yang terhormat. Apalagi mengikuti event yang mengatasnamakan sekolah.

Surat dispensasi sudah ditangan. Kami –berempat– meluncur ke hotel insumo untuk pergi mendaftar. Ketika sudah sampai, mata mendadak terbelalak melihat banyak anak dengan bangganya memakai uniform sekolah caturnya bahkan ada juga yang memakai kaos polo berlogokan percasi dengan tulisan belakang Kontingan Jawa Timur.

Jadi untuk tema kompetisi ini adalah, Pecatur Terdidik vs Pecatur jalanan. Sadiss!!!

Tapi bukanya kita tidak akan tahu hasilnya sebelum mencoba. Barang kali mereka yang memakai atribut hanya untuk membuat lawan down. Hey, ini masih pendaftaran bung !! So, hajaar aja.

Karena Catur

Hari kompetisi pun tiba. Saya tidak menyangka mendapatkan posisi duduk yang paling depan, tepat berhadapan dengan juri.

Seperti biasa ada upacara pembukaan sebelum kompetisi dimulai. Mc membacakan runtutan acara. Dibuka oleh ketua percasi kota Kediri. Lalu dilanjutkan oleh sambutan Walikota yang saat itu dijabat oleh Bapak Syamsul Azhar.

Ketika sambutan telah usai ketua percasi dengan sigap menggandeng tangan Walikota untuk turun dari podium. Setelah foto untuk dokumentasi. Ketua percasi mengajak Pak Syamsul berjalan, seolah ingin menunjukan sesuatu.

Menariknya, beliau berdua berhenti tepat didepan meja saya. Dan dengan bangga Bapak Ketua Percasi berkata, “anak ini adalah kontingen Jawa Timur dari Kediri pak Wali”. Bapak Wali tersenyum dan menepuk bahu anak itu.

Haaay, you know what? Itu adalah lawan pertama saya. Hal itu cukup membuat saya tersenyum kecut. Namun yang membuat saya haru adalah Bapak walikota malah mengajak saya berjabat tangan dan foto, bukan dengan lawan saya yang notabene adalah Kontingen Jawa Timur.

via 500px.com

via 500px.com

Saya tidak tahu maksud dari pak wali tersebut. Apakah untuk membesarkan hati saya atau hanya kasihan, karena dipertandingan pertama, saya mendapatkan lawan yang berat. Ah peduli amat. Yang penting saya bangga bisa foto sama Bapak walikota dengan seragam kebesaran sekolah. Dan ngarep besok masuk Koran. Hehe!!

 

Mainkan Caturmu Kawan!

via pixabay.com

via pixabay.com

Pertandingan pun dimulai. Saya tahu kalau lawan saya sangat berat. Tapi saya berprinsip harus memperlihatkan permainan indah dan tidak mudah dikalahkan. Setinggi apapun titelnya. The Power of Ngeyel !!

Karena saya percaya dalam catur itu bukan hanya soal strategi, tapi ada juga faktor mental dan kesabaran. Tanpa kedua faktor tersebut strategi akan sering blunder.

Dan benar, saya cukup kuat untuk menahan lawan saya bertanding. Sampai kami hanya menyisakan beberapa pion dan raja saja.

Walaupun pada akhirnya saya kalah, saya yang cuman amatiran ini bangga bisa membuat kesulitan pemain catur yang sudah punya jam terbang tinggi tersebut.

Intinya dalam segala hal kita harus mempunyai ilmu, untuk menyusun strategi. Punya mental yang kokoh agar tidak mudah down dalam ketidakpastian zaman. Dan kesabaran untuk mempertahankan ritme.

Menurut saya itu yang bisa dipetik pelajaran dari bermain catur. Semoga bermanfaat Tetap semangat!!

Leave a Reply