Kuala Lumpur dan Empat Serangkai

Kuala Lumpur adalah ibukota Negara Malaysia yang sekaligus menjadi pusat kebudayaan dan ekonomi, karena pusat pemerintahan sudah berpindah ke Putrajaya. Nah, saya akan bercerita tentang pengalaman mengunjungi beberapa tempat di Kuala Lumpur. Lets see!

Baca Juga: 13+ Tips Mempelajari Huruf Hiragana dan Katakana Secara Otodidak

Bermula dari Magang

Dokumen Pribadi

Dokumen Pribadi

Bulan maret tahun 2015 saya mulai on the job training di the Aston Hotel Nilai, Malaysia. Selama enam bulan saya menimba ilmu di negeri Jiran sebagai receptionist hotel. Banyak peristiwa yang saya alami di sana. Hidup di daerah baru mengharuskan saya untuk menyesuaikan diri. Walaupun kita serumpun. Bahasa, sosial budaya, makanan dan kebiasaan banyak sekali perbedaan yang mendasar.

Mungkin bawaan lahir yang menyebabkan saya suka sekali dengan petualangan. Apalagi menyusuri daerah baru, seperti menemukan fantasi tersendiri. Kan sayang udah jauh-jauh sampai sini nggak dimanfaatkan buat jalan-jalan. Haha!

Singkat kata saya memprovokasi beberapa teman untuk mau diajak bareng. Akhirnya, saya berhasil mendapatkan tiga orang yang se-frekuensi. Mereka adalah Wahyu dari Surabaya, Farras dari Sidoarjo dan Zudin dari Malang.

Kedekatan saya dengan supervisor hotel memungkinkan saya untuk memilih waktu dan dengan siapa saya ingin libur. Sadis! Sesuai rencana, hari liburpun sudah di approve. Oke, awal juni 2015 kita berangkat!

Stasiun Serasa Bandara

KL_Sentral_LRT_station

KL Sentral via commons.wikipedia.org

Sekarang kemudahan akses internet sangat membantu kegiatan apapun yang akan dilalukan manusia, begitu juga travelling.

Sebelum pergi ke Kuala Lumpur saya searching dahulu apa saja yang bisa saya kunjungi disana, bagaimana akses transportasinya, kapan waktu yang tepat dll. Lengkap seperti kaidah jurnalisme 5w 1h.

Beberapa informasi kunci mengenai Kuala Lumpur sudah didapat. Guys, ayo berangkat!!! Kami berangkat dari daerah Nilai, Kerajaan Negeri Sembilan menggunakan kereta. Membutuhkan waktu 1,5 jam untuk sampai KL Central.

Monorail via pixabay.com

Monorail via pixabay.com

Dan kamu tahu? Kami seperti suku anak dalam yang kaget dengan suasana kota. Yup, KL central itu hanyalah sebuah stasiun kereta api. Tapi benar-benar keren. Dibangun layaknya bandara, tersambung dengan monorel untuk beberapa tujuan dan di lengkapi mall yang cukup megah. Heii, ini masih Kuala Lumpur kawan, gimana dengan Eropa?

Chinatown

Chinatown petaling street via phuot.vn

Kita naik monorail kawan. Di Indonesia masih ada satu, di bandara kualanamu Medan doang. Bingung? Jangan ditanya, yang kami lakukan saat itu adalah ikut mengantre dan benar-benar melotot memperhatikan. Kan malu, kalau saat tiba giliran tapi nggak tau gimana caranya. Sementara antrean di belakang sudah mengular.

Sebenarnya caranya sederhana, cukup tekan layar touchscreen –seperti cetak tiket di stasiun– kemana arah tujuan kita, masukan jumlah orang, lalu enter nanti akan keluar berapa uang yang harus kita bayar. Nah usahakan membawa koin cent atau pecahan duit kecil.

Berhubung masih pagi dan belum terlalu panas kami memilih Chinatown yang terletak di jalan petaling untuk tujuan pertama. Nah untuk pergi ke Chinatown, dari KL central cukup memilih monorail bertujuan pasar seni. Setelah sampai di pemberhentian. Kita lanjutkan dengan jalan kaki, paling sekitar 300m sudah sampai tujuan.

Chinatown adalah tempat belanja bagi wisatawan yang hobi membeli barang-barang murah. Seperti namanya, pedagang disini mayoritas adalah keturunan Tionghoa. Jenis barang yang dijual disini beraneka ragam antara lain, tas, baju, dompet, sabuk, CD musik, mainan anak-anak hingga obat herbal.

Central Market

kualalumpur

Central Market via trip4asia.com

Puas menyusuri Chinatown kami melanjutkan perjalanan ke Central Market atau dikenal dengan Pasar Seni yang terletak tidak jauh dari Chinatown. Kalau kita menginginkan kerajinan Malaysia disinilah tempatnya.

Bagian depan diisi berbagai macam pedagang barang seni. Sedangkan bagian belakang di khususkan kepada para pelukis, yang umumnya adalah pelukis potret.

Central Market via travellinghopaholic.com

Namun tujuan kami kesini bukan untuk mencari kerajinan atau lukisan melainkan untuk berburu kuliner. Yup, food
court pasar seni saya katakan cukup lengkap menjual beraneka ragam makanan. Sebenarnya banyak menu daerah Malaysia yang bisa membuat ngiler, namun ketika ada kedai makan yang bertuliskan Indonesian food, mood mendadak berubah.

Maklum Tiga bulan di Malaysia dengan menu makanan itu-itu saja –masakan ala hotel– membuat saya kangen masakan Indonesia. Walaupun yang disajikan cuma sederhana seperti, tumis kangkung, perkedel jagung, bakso, soto dll seakan menghadirkan wajah ibu sebelum memakannya. Ah, ibu i miss you!

Dataran Merdeka

Perut sudah dimanjakan masakan rumahan ala Malaysia, destinasi selanjutnya adalah dataran merdeka. Nama ini cukup terkenal di Kuala Lumpur bagi mereka yang menyukai sejarah. Terbukti ketika kesana, saya menjumpai turis dari berbagai ras yang hilir mudik.

Inilah beberapa destinasi yang kami kunjungi di dataran merdeka.

City Theatre

Dibangun oleh A.B Hubback pada tahun 1904. Bangunan ini awalnya adalah old City Hall. Karena tahun 1992 city theatre kebakaran akhirnya bangunan dipugar dan diperbarui.

Old High Court Building

Dibangun oleh A.C Norman pada tahun 1915. Bangunan ini awalnya berfungsi sebagai Pengadilan tinggi. Namun saat ini sudah beralih fungsi menjadi gedung Kementrian Informasi, Komunikasi dan Budaya.

Sultan Abdul Hamad Building

Dibangun oleh A.C Norman dan R.A.J Bidwell pada tahun 1897. Gedung ini merupakan bangunan terbesar pada masanya. Di bagian tengah gedung terdapat jam yang pertama kali berbunyi, saat parade perayaan hari ulang tahun Ratu Victoria di tahun yang sama.

Kuala Lumpur City Gallery

Kuala Lumpur City Gallery via 500px.com

Kuala Lumpur City Gallery via 500px.com

Nah, tempat ini yang sangat ramai dikunjungi untuk berfoto agar eksistensi lebih terjaga. Haha! Karena jarang-jarang main ke Kuala Lumpur kami sempatkan untuk masuk kedalam. Bangungan kuno yang di padu dengan teknologi modern cukup memanjakan kami.

Di puncak bangunan, pengunjung diajak untuk melihat master plan pembangunan Kuala Lumpur kalau tidak salah sampai tahun 2040. Satu kata untuk Kuala Lumpur City Gallery, Keren.

Itulah beberapa tempat yang kami kunjungin di Kuala Lumpur. Tunggu cerita selanjutnya ya..

Leave a Reply