Nostalgia Kota Tua

via flickr.com

via flickr.com

Kota Tua Jakarta atau juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama -Oud Batavia- adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

Dijuluki “permata asia” dan “ratu dari timur” pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa. Jakarta lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.

Sebagai pemukiman penting, pusat kota dan pusat perdagangan di Asia sejak abad ke-16, kota tua merupakan rumah bagi beberapa situs dan bangunan bersejarah.

Nah, saya akan bercerita mengenai trip ke beberapa tempat di Jakarta Tempo Doeloe ini. Oke, Langsung saja kita simak.

Stasiun Jakarta Kota

Stasiun Jakarta Kota via flickr.com

Stasiun Jakarta Kota via flickr.com

Saya dahulu suka bertanya-tanya, sebenarnya destinasi mana sih yang sayang dilewatkan ketika singgah ke Jakarta. Selain ancol, tmii, lubang buaya, masjid istiqlal dan monas. Kala itu ada salah satu teman yang menyarankan untuk main ke kota tua.

Kota tua? Ya, namanya terdengar asing bagi mereka yang asalnya jauh dari ibukota. Karena penasaran, saya searching all about kota tua. Target sudah terkunci, persiapan sudah selesai, ayo kita berangkat!

Karena saya lebih suka travelling dengan cara backpacker, pastinya akan banyak menggunakan angkutan umum. Oleh karena itu, stasiun Jakarta kota menjadi destinasi pertama saya mengunjungi komplek oud Batavia tersebut, yang kebetulan menjadi salah satu situs bersejarah dan hingga kini masih aktif digunakan.

Interior stasiun jakarta kota via flickr

Interior stasiun jakarta kota via flickr.com

Namanya juga situs bersejarah pasti kental aroma kolonialnya. Arsitekturnya, tebal dindingnya dan interiornya seakan mengajak kita bernostalgia ke beberapa abad yang lalu.

Museum Bank Mandiri

Back office museum Bank Mandiri via flickr.com

Back office museum Bank Mandiri via flickr.com

Tema destinasi kita kali ini adalah nostalgia zaman dahulu. Tentunya museum akan menjadi inti dari trip ini. Dari stasiun Jakarta kota saya berjalan kaki menuju museum Bank Mandiri. Penasaran dong bagaimana kerja perbankan tempo doeloe.

Nah di museum Bank Mandiri ini saya menemukan berbagai koleksi unik. Antara lain adalah peti uang, mesin hitung uang mekanik, kalkulator, mesin pembukuan, mesin cetak, alat press, safe deposit box maupun aneka surat berharga seperti bilyet deposito, sertifikat deposito, cek, obligasi dan saham.

Bagian dalam Museum Bank Mandiri via flickr.com

Bagian dalam Museum Bank Mandiri via flickr.com

Di samping itu, ornamen bangunan, interior dan furniturnya masih asli seperti sedia kala. Saya jadi membayangkan betapa teliti dan sibuknya orang zaman dulu. Kita mah apa mudah banget terbuai kecanggihan teknologi yang akhirnya malas belajar. Hmmm!

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia via flickr.com

Museum Bank Indonesia via flickr.com

Belum puas terhadap museum Bank Mandiri, saya lanjutkan mengunjungi museum Bank Indonesia karena letaknya yang berkedekatan.

Berbeda dengan museum Bank Mandiri, museum yang dibangun pada tahun 1828 dan beraliran neo-klasikal dipadu dengan pengaruh lokal ini memanfaatkan teknologi modern dan multimedia untuk memanjakan pengunjungnya.

Koleksi Bank Indonesia via flickr.com

Koleksi Bank Indonesia via flickr.com

Saya melihat koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya bank Indonesia, seperti uang numismatik kerajaan-kerajaan Nusantara yang ditampilkan secara menarik.

Museum Fatahillah

Museum Fatahillah via flickr.com

Museum Fatahillah via flickr.com

Puas melihat, mengetahui dan belajar dari perbankan tempo doeloe. Saya lanjutkan dengan menyusuri jalan, melihat kiri-kanan yang sepanjang mata memandang dipenuhi dengan bangunan bersejarah.

Seperti layaknya tempat wisata, ada beberapa pedagang yang menjajakan dagangannya, musisi jalanan yang bernyanyi dan begitu banyak pengunjung berlalu-lalang. Yang semua itu bermuara pada ikon kota tua. Yup, museum Fatahillah lah muara itu.

Museum Fatahillah yang dibangun pada tahun 1707-1710, dahulunya merupakan balai kota VOC. Banyak koleksi yang bisa dinikmati di dalam ikon kota tua ini. Antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19 yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Tiongkok dan Indonesia.

Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan betawi, numismatik dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes –dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang menurut mitologi Yunani– dan Mariam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis.

Senja sudah mulai menyapa, saya pun memutuskan museum fatahillah sebagai penutup dari trip kali ini. Sebenarnya masih banyak yang bisa di explore di area Kota Tua. Mungkin itu akan menjadi next destination. Semoga bermanfaat!!

Barang siapa tidak merasa memiliki bumi –mencintai bangsa–, dia tidak memiliki sejarah. Dan barang siapa tidak memiliki sejarah, Dia akan terlupakan. –Pepatah Arab

 

Sumber : id.wikipedia.org

Leave a Reply