Semua Karena Slank

via 500px.com

via 500px.com

Slank. Yup, band rock fenomenal yang dimiliki Indonesia ini dari dahulu sampai kini masih banyak saja penggemarnya. Paradigma saya tentang musik berubah ketika tanpa sengaja melihat live concert band keren ini. Oke, saya akan langsung saja mulai ceritanya.

Bermula dari Kata Liburan

Kesombongan masa muda yang indah. Cerita tentang masa putih abu-abu seakan tak lekang oleh waktu. Apalagi topik yang cukup panas untuk dibahas, Liburan.

Walaupun masih jauh di depan namun gaungnya sudah terasa dan ramai diperbincangkan. Apalagi dengan latar belakang keluarga yang berkecukupan, cukup buat bahan membusungkan dada. Tapi itu belum seberapa, yang paling ngeselin adalah mereka yang pacaran mendiskriminasi para jomblo.

un

via icg.sch.id

Kebetulan saya dulu waktu SMA jurusannya IPS. Dan saya yakin anak IPS di seluruh Indonesia Raya itu semuanya sama, sama remuknya. Hahaha! Iya benar, saya ingat betul bagaimana teman-teman dahulu kalau ngeceng-in bener-bener parah.

Ketika semua sudah sombong dengan cerita plan liburanya masing-masing. Saya hanya diam terpaku, menyimak dan mendengarkan. Karena tidak punya satu gambaran untuk di banggakan. Pedih!

Bohongin Orangtua Demi Beasiswa

via 500px.com

via 500px.com

Tahun 2011 saya menginjak kelas dua SMA. Pada saat pelajaran di kelas, terdengar pengumuman dari guru BK bahwa bakalan ada beasiswa kurang mampu. Bagi yang ingin mendaftar silakan datang ke ruang guru pada jam istirahat.

Insting saya mengatakan nominalnya bakalan banyak dan lumayan buat tambahan jajan. Nah, saya iseng tuh datang ke ruang guru menanyakan perihal beasiswa. Setelah semua kriteria dibacakan. Ada satu syarat yang sebenarnya bertentangan dengan nurani saya, yaitu harus meminta surat keterangan miskin dari desa.

Sebenarnya orangtua saya tidak termasuk kategori ini. Namun karena badung, saya nekad saja datang ke kantor desa untuk meminta surat keterangan miskin tanpa sepengetahuan orangtua.

Reaksi perangkat desa pun juga aneh, masak iya keluarga cukup terpandang –bapak saya mantan kades– minta surat keterangan miskin, nggak tau kenapa mungkin malas ribet, permintaan saya langsung diproses. Cukup cepat, satu hari sudah jadi. Dan surat sudah ditangan.

Keesokan harinya saya datang ke ruang guru BK mengumpulkan semua persyaratan dengan menampilkan wajah melas agar tampak meyakinkan.

Dua minggu kemudian, pada waktu pelajaran tiba-tiba saya dipanggil guru BK untuk datang menghadap. Sesudah mengetuk pintu dan dipersilahkan duduk, ibu guru memberikan nasehat tentang berbakti pada orangtua, rajin belajar, jangan dll. Saya terkejut ketika di akhir nasehat beliau memberikan amplop yang cukup tebal dengan berujar, “gunanakan uang ini dengan bijak ya nak!”.

Kemudian saya buka amplop itu. And you know what?? Amplopnya berisi 2,5 juta rupiah. Angka yang sangat besar untuk ukuran anak desa seperti saya. Waktu yang tepat, libur pun sudah dekat. Hahaha! Ayo kita kemana?

Angkat Ranselmu Kawan!

via 500px.com

via 500px.com

Duit sudah dipegang, tapi bingung mau dibuat apa atau mau kemana. Kebetulan juga saya satu kamar –di pesantren– dengan teman yang penggemar slank tinggkat akut. Sebut saja namanya Gembul. Entah kerasukan jin apa dia bilang, “Bro, ada slank nih. Tapi di Jakarta, gimana sikat nggak?”

Sebenarnya saya tidak tertarik dengan slank nya. Namun ketika nama Jakarta disebut ada sebuah tantangan yang memanggil, bahwa saya harus datang ke kota kejam itu. Masak iya sebagai warga Negara Indonesia nggak pernah nginjak ibukota. Kan nggak afdol!

“Sikaaat bro!” jawab saya. Walaupun dalam hati bilang, nonton slank mah itu urusan elu, yang penting gue sampai Jakarta.

Karena mempertimbangkan faktor biaya dan saya juga belum pernah ke Jakarta. Saya mengajak teman yang asli Jakarta untuk ikut. Agar nanti dapat penginapan gratis. Prinsip ekonomi harus tetap dijunjung tinggi bos! Haha.

Saya juga melobi sana-sini agar tambah meramaikan suasana. Fixed! Dapat lima orang yang mau diajak. Hari libur pun tiba. Semua persiapan sudah kelar, berangkat! Kami angkat ransel dan naik kereta dengan judul, Slankers Kediri goes to Jakarta!

Kereta oh Kereta!

Passengers travel on an overcrowded train at Loni town in Uttar Pradesh

via ibtimes.com

Judulnya sudah keren, slankers Kediri goes to Jakarta. Berangkat liburan harusnya senang, namun yang saya rasakan justru sebaliknya.

Naik kereta api kala itu –tahun 2011– adalah perjuangan. Belum ada AC untuk kelas ekonomi –maklum duitnya mepet–, pengaturan tiket masih amburadul. Masih banyak orang berdesak-desakan untuk masuk. Ada yang tidur di tengah jalan dan beralaskan Koran.

Selain itu, belum ada pengaturan tentang barang bawaan, jadi satu orang bisa bawa apapun, mulai dari ayam sampai karung beras, kompilt. Pedagang asongan juga nggak kalah garang, setiap berhenti di stasiun mereka langsung menyerang nggak peduli di jalan dan kolong kursi ada orang, langsung saja terjang.

Oh ya lupa, perjalanan juga bukan main lamanya. Kediri-jakarta ditempuh kira-kira dalam waktu 18 jam. Anda bisa membayangkan bagaimana perjuangan kami kala itu.

Happy Ending Story

via pixabay.com

via pixabay.com

Namanya perjuangan akan luntur tak terasa jika tujuan sudah di genggaman. Saya sampai Jakarta sekitar pukul 10.00 wib. Senangnya nggak bisa digambarin, kira-kira seperti itulah. Seoarang anak desa bisa sampai ke ibukota, yang konon katanya semua cerita sukses berawal dari sini –walaupun gelandang juga sama¬.

Melihat monas dan gedung-gedung tinggi, behh seakan terbang melayang. Macet pun tak dihiraukan. Singkat kata kami sudah sampai kediaman teman saya, kami langsung disuruh makan, ngobrol sebentar sama orangtunya dan lanjut tidur.

Hari yang akan jadi sejarah pun tiba, nggak ada lelah dikata. Pagi baru sampai, malamnya langsung cabut. Kata Gembul, “semua karena slank”. Habis maghrib, setelah pamitan sama orangtuanya temen. Kami langsung berangkat ke PRJ.

Saya merasakan pengalaman baru, naik bajaj. Jangan ditanya, serunya nggak ukuran guys. Si abang kalau nyetir ngawurnya bukan main. Seolah-olah jalan milik sendiri kali ya. Kami hanya bisa duduk diam dan memperbanyak istighfar.

Uyee! Kita sampai PRJ kawan. 90% impian sudah di depan mata –impian teman saya–. Tidak pikir panjang kami langsung antre membeli tiket. Antrenya mengular. Setelah tiket didapat kami langsung masuk ke dalam gedung.

Kagum. Hanya itu yang ada di benak saya. Melihat begitu banyaknya orang yang datang ke gedung megah bekas bandara ini. Sebelum ke acara inti, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya, kerak telor. Iya dong, kita nggak masuk daftar orang yang pernah ke Jakarta kalau nggak nyempetin makanan khas ini.

Hasrat tentang kerak telor sudah terpenuhi. Kesabaran si Gembul mengikuti keinginan kami sudah mulai habis. Dia sudah ngebet banget kepengen lihat slank, band gandrungannya tersebut. Kami ikuti saja keinginan dia, daripada ngambek. Bahaya!

Gilaaa! Ungkapan pertama saya yang muncul. Sebenarnya saya kurang suka terhadap musik. Namun live concert inilah yang merubah paradigma saya. Saya melihat ribuan orang menyanyi dan dan berjoget bersama, amazing! Saat itu masih perfom dari Souljah, band pembuka yang ber genre ska.

via 500px.com

via 500px.com

Teriakan pun pecah ketika slank muncul dan menggebrak dengan lagu I miss you but I hate you. Saya melihat ribuan slankers mania menemukan fantasinya. Suara Kaka seakan menyihir banyak orang. Mengajak semuanya bernyanyi, melompat dan menari dalam satu harmoni.

Pengalaman paling berkesan bagi saya adalah ketika slank membawakan lagu terlalu manis. Ribuan tangan bergerak seirama, ke kiri dan dan kanan. Hanya dengan sebuah lagu lama, Jakarta bergema.

Terlalu manis untuk dilupakan. Kenangan yang indah bersamamu. Tinggallah mimpi.

Dengan penutup kamu harus cepat pulang, lengkap sudah slank menghibur banyak orang. Saya melihat begitu sumringah wajah Gembul. Impian pun sudah dicapai. Waktunya pulang.

Masih banyak cerita saya tentang Jakarta. So, what’s next?

Leave a Reply