Ujian Nasional dan Tantangan Kakak

anak sekolah

via 500px

Di sebuah Kampung bernama Pulerejo Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung. Ada sebuah madrasah tsanawiyah kecil bernama MTsN Ngantru. Di situlah saya belajar. Jauh dari hingar bingar suasana kota, namun prestasinya cukup diperhitungkan khususnya dalam bidang keagamaan.

Almamater saya sering mengirimkan wakil nya dalam MTQ tingkat Nasional. MTQ atau Musabaqah Tilawatil Quran adalah festival membaca Al-quran dengan menggunakan lagu.

Namun kita tidak akan membahas mengenai hal ini. Ada cerita menarik di penghujung masa sekolah saya. Mari kita simak!

You can get it if you really want. You must try, try and try. -Jimmy Cliff

Tantangan Sang Kakak

american football

via 500px.com

Dalam keluarga saya, ada semacam tradisi cukup unik dan mungkin juga bisa ditiru, yaitu membangga-banggakan prestasi akademik. Sudah jelas ranking yang paling bawah pasti akan dibully.

Saya adalah anak ke-empat dari lima bersaudara. Yang kebetulan kegita kakak saya adalah pembully yang sadis. Adik saya tidak dihitung karena jarak umur terpaut cukup jauh. Baru-baru ini saja dia dicengin karena sudah masuk SMA.

Si Fafa yang merupakan satu-satunya perempuan, mungkin diberkahi dengan keenceran otak yang lebih diantara saudaranya. Namun juga yang paling ngeselin.

Pria mana sih yang cewek menolak? Pasti dong mengedepan kan gengsi. Walaupun sebenarnya gemetaran di belakang.

Karena Persaingan itu Indah

Muathay

via 500px.com

Mungkin sudah gen biologis kali ya. Dalam keluarga kami, hampir semua menyukai tantangan. Tanpa pikir panjang saya menyepakatinya. Konsekuensinya kalau saya kalah, dengan berat hati saya menuruti apa kata Fafa bak raja.

Setelah breakdown, saya harus melawan sekitran 400 siswa untuk menjadi juara paralel. Padahal prestasi terbaik cuman ranking 4 kelas. Kalau dipikir-pikir saya mengambil keputusan bodoh. Dan kesempatan menang juga sedikit. Namun nasi sudah menjadi bubur dan kata-kata sudah tidak bisa diterik kembali. Malu dong mau jilat ludah sendiri.

You can get it if you really want. You must try, try and try. Lagu Jimmy Cliff memang tepat untuk saat ini. Semangat kawan! Percaya saja kalau impossible is nothing.

Ngebut Belajar

saya sedang belajar

via pixabay.com

Ujian nasional masih empat bulan lagi. Saya harus mengatur strategi. Usaha saja tidak cukup, harus juga melibatkan campur tangan Tuhan untuk sebuah keajaiban yang brilian.

Mulai tuh saya kencengin belajar, diskusi kelompok setiap sore, lanjut kelas tambahan, latihan mengerjakan soal dll. Bahkan kadang-kadang saya menodong teman yang pinter agar mau ngajarin soal yang sulit. Maklum guys, saat try out aroma persaingan masih tinggi.

Belum pernah dalam hidup saya bisa serajin dan seserius ini, si Fafa memang jago memantik hormon adrenalin. Untungnya dalam hal yang positif. Saya berpikir betapa bahagianya ibu saya, jikalau tantangan itu bisa saya menangkan. Sekaligus akan menjadi hadiah yang bersejarah. Pulang haji tau-tau anaknya juara. Aih indahnya!

Kencengin Ibadah

berdoa

via 500px.com

Saya percaya bahwa doa itu mempunyai kekuatan yang sangat besar. Siapapun bisa melakukannya, tanpa ada penghalang ruang dan waktu.

Saya ingat betul, sekitar satu bulan sebelum ujian nasional ibu akan berangkat ke tanah suci. Sebelum berangkat saya curhat dan saya ceritakan semua hal berkaitan dengan tantangan si Fafa.

Dengan jawaban yang sangat meneduhkan ibu berkata,”Udah tenang aja. Ibu yakin kamu bisa. Bukan hanya sekedar yakin tetapi juga percaya. Nanti di depan kabah ibu doain khusus buat kamu. Yang penting kamu usaha dan berdoa dengan maksimal. Masalah hasil serahkan kepada Allah Yang Maha Mengatur Segala Sesuatu.”

Mendengar nasehat ibu, semangat menjadi bergelora. Yang semula nggak pernah sholat malam, sholat dhuha, sholat rawatib dan puasa sunnah tiba-tiba menjadi rajin. Sangat rajin malah. Sampai usaha saya yang seperti itu diketawain.

“Ibadah kok pas ada maunya doang” kata fafa. Biarin ajalah anjing menggonggong, kafilah akan tetap lewat. Mending dong masih mau mengingat, daripada tidak sama sekali. Iya kan? Ya jelas bedalah kualitas keimanan saya dibandingkan dengan para orang bijak. Namanya juga baru belajar hidup.

Ujian Nasional

 

ujian

via500px.com

Datang juga hari penentuan kelulusan ini. Saya Lulusan SMP tahun 2009 jadi saat itu ada empat mata pelajaran yang diujikan. Yaitu, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA.

Satu kelas diisi 20 orang. Dan satu mata pelajaran dibagi menjadi empat kode soal. Jadi yang mendapat soal sama dalam satu kelas hanyalah lima orang, itupun diletakkan berjauhan dengan pengawas dari sekolah lain. Hahaha! Good luck bro!

Ujian berlangsung selama empat hari dan semuanya berjalan lancar tanpa ada halangan suatu apapun. Saya melihat ada beberapa teman yang tidak henti-hentinya menangis karena terlalu memikirkan soal yang dikerjakan tadi. Ujian sudah berakhir. Tinggal kita lihat kejutan Tuhan.

Pengumuman

pengumuman

via500px.com

Dua bulan menunggu pengumuman. Itu merupakan waktu yang lama. Yang dilakukan di sekolah hanya bermain doang. Sampai lupa bagaimana caranya menulis. Kalaupun ada, palingan cuma ujian praktik yang tidak banyak memaksa otak bekerja keras.

Sampai suatu saat ada pengumuman hasil ujian saya tidak mengetahuinya. Karena terlalu banyak catur dan volley. Anak kelas tiga sudah menjadi raja, jadi nggak bakalan ada yang berani mengusiknya.

Ketika itu tiba-tiba semua anak berlari kearah mading. Bisa bayangin kan 400 orang berebutan melihat papan yang tidak sampai dua meter panjangnya. Tau sendiri antre ala Indonesia itu gimana, mengular. Kaya orang yang rebutan sembako.

Tidak ada feeling sama sekali saat itu. Lalu ada segerombolan teman yang termasuk geng di sekolah menarik tangan saya. Dengan pongah mereka membuatkan jalan dan menjadi pagar hidup buat saya. Ini maksudnya apa sih teman-teman. Nggak jelas banget.

Pagar hidup yang dibuat memudahkan saya sampai ke papan pengumuman. Sedikit deg-degan ketika mencari nama. Saya mulai dari tengah ke urutan yang paling bawah. Ternyata tidak ada nama saya. Saya ulangi lagi karena masih nggak percaya. Dan hasil yang sama pun saya dapatkan.

Semakin gugup saya rasakan. Dengan keringat dingin saya mengurutkan dari tengah ke atas. Mata melotot tajam diiringi jantung berdegup kencang. Satu demi satu ke urutan atas. Dari angka 200 sampai dengan 20 tidak ada nama saya.

Oh god, masak iya saya nggak lulus? Waktu seakan berjalan sangat pelan ketika berada di urutan 10. Dan namanya saya tidak kunjung ada. Dengan tangan gemetar saya mengurutkan ke atas lagi. 5, 4, 3, 2 dan 1. Ini serius? Seorang Pamungkas Adipura mendapat NEM terbaik. Nggak mimpi kan?

winner

via 500px.com

Setelah mengetahui hasil ujian nasional saya. Semua teman dekat bersorak sekaligus memberi ucapan. Ada juga beberapa yang tidak suka karena ambisinya gagal dicapai. Namun seperti itulah hidup. Kita tidak bisa menebak.

Dengan hasil ini saya sudah tidak mengharap hadiah dari Fafa. Cukup membuat ibu bangga saja merupakan sejarah. Terima kasih Tuhan, Engkau mendengar doaku. I love you full.

Semoga bermanfaat!!

Leave a Reply