Aku, Sintesa dan Terjerumus ke Surga

jejak kaki

via pixabay.com

Hidup itu kelihatan seperti acak-acakan, tetapi kalau kita renungkan, sebenarnya ada pola yang berjalan di dalamnya. Seperti keberuntungan atau kesialan yang muncul, masalah dan solusi yang datang silih berganti dan cita-cita yang gagal atau berhasil diraih.

Kesemuanya itu berpola dan diatas semua pola, ada Tuhan Yang Maha Mengatur atas segala sesuatu. Kali ini saya akan berbagi cerita tentang masuk saya di Sintesa, sebuah pesantren di pelosok Magetan, Jawa Timur yang mempunyai visi mereboisasi attitude pemuda Indonesia dengan mendidiknya menjadi pebisnis online yang mencintai Al-Quran. Mari kita mulai.

Obrolan Ringan

couple

via 500px.com

Berawal dari obrolan ringan dengan kakak perumpuan saya. Sebut saja namanya Fafa. Kami jarang sekali bertemu, mungkin dapat dihitung dengan hitungan jari dalam satu tahun, bisanya ajang kumpul keluarga itu sewaktu lebaran. Itupun kalau nggak ada project yang dikerjakan.

Setiap kali bertemu, kami selalu menceritakan kisah masing-masing. Kala itu, si fafa lagi habis ikutan progam seller incubator yang diadakan oleh Bukalapak.

Dengan menggebu-gebu di bercerita perihal bukalapak. Tentang pentingnya seller di Indonesia, pengetahuan apa saja yang harus dipelajari, modal apa yang diperlukan dan bagaimana memulainya. Semua dikupas tuntas.

Saya disarankan untuk mencobanya. Dengan langkah awal menjadi dropshipper, berbagai barang disediakan olehnya, pokoknya saya tau jadi. Nah, kala itu dari aneka produk yang dia siapkan untuk saya jual, saya memilih tas kanvas dari Bandung. Register bukalapak dimulai. Yup, saya sekarang bergelar sebagai dropshipper.

Dua minggu berjalan, terjual satu saja senengnya minta ampun. Haha! Maklum pemula guys.

Seperti layaknya kakak beradik kami sering bercanda, ngomomin sesuatu yang nggak penting. Namun ada percakapan yang tidak sengaja bisa menjadi titik balik perubahan dalam hidup saya. Kira-kira begini percakapanya:

Fafa : “Aku dapat info dari temen nih, ada pendaftaran Pesantren Sintesa. Disana kamu bakal belajar tentang SEO dan gimana nulis yang bagus, itu hal dasar yang harus dimiliki Internet Marketer. Selain itu ada pendidikan agamanya juga loh. Mau nggak?”

Saya : “Sintesa ya, kayak nggak asing namanya. Bentar, itu pesantren bisnis di pelosok Magetan kan? Kalau nggak salah pak Rhenald Kasali pernah nulis tentang sintesa dan itu masuk di kitabisa.com”.

Fafa : “Masak sih, aku nggak tau malah. Coba aja. Daripada di rumah stres sendirian nggak ada temen. Kan disana bisa juga disambi jualan juga”.

Saya : “Hmm, aku pelajari dulu deh”.

Menjadi Penasaran

Sebenarnya percakapan itu hanya masuk di telinga kanan dan keluar di telinga kiri saja, tanpa mampir di otak. Satu hari berlalu saya merasa ada yang mengganjal di pikiran, apa itu saya juga belum menemukan jawabanya.

Setelah diingat-ingat dengan baik, timbul semacam penasaran tentang obrolan kemarin. Dengan diam-diam saya stalking tuh apa itu sintesa. Setelah saya pelajari, ada kesimpulan sederhana yang keluar. Pesantren ini ngajarin bisnis tapi juga suruh ngafalin al-quran dengan durasi satu tahun belajar.

Menghafal al-quran itu tugas suci, namun cobaanya berat guys. Tahu sendiri saya orangnya badung. Yakin nih mau ngafalin kitab suci? Ingat pam kalau kamu masuk ranah itu, nanti nggak bisa usil semaumu, nggak bisa jalan semaumu dan yang paling penting nggak bisa lagi gombalin cewek semaumu.

dua pilihan

Antara dua pilihan yang sama berat. via pixabay.com

Ada dua pilihan, kalau dirumah bisa bebas, tapi stress nggak ada temen buat ngobrol, kalau ke sintesa harus siap merubah diri. Oh tuhan! Pilihan yang cukup sulit.

Bingung mau pilih yang mana. Biasanya kalau lagi mentok terhahap sebuah pilihan. Saya meminta nasehat ibu untuk membantu. Namun, saat itu ibu juga belum mau mengambil keputusan. Keesokan harinya ibu bilang, “Kelihatanya sintesa itu bagus, coba aja le”.

Nggak nyangka mudah banget ibu bisa approve dengan begitu mudah. Berarti pilihan sudah jelas. Saya harus mencobanya, yang berarti harus menerima konsekuensinya. Walaupun dalam hati kecil sudah mengatakan demikian setelah melihat website dan stalking facebook.

Ikut Seleksi

Fixed, keputusan sudah bulat bahwa saya akan ikut seleksi. Dilihat dari website, seleksi pendaftarannya kelihatan cukup mudah, cukup nulis biografi diri dan harapan masuk sintesa 200 kata doang.

Namun setelah mencoba nulis, beeh pusing guys! Dapat seratus kata, hapus lagi karena ngerasa nggak bagus. Dan proses itu berjalan seharian. Padahal kalau ditotal hanya 400 kata loh. Emang benar ya, segala sesuatu kalau kita belum terbiasa, saat mencoba pertama pasti menguras banyak tenaga.

mengetik

via pixabay.com

Merasa belum bagus hasilnya, saya memaksa si fafa untuk mengoreksinya. Karena saya tahu, dia sudah biasa jadi penulis freelance dan tulisannya cukup enak dibaca. Setelah sekilas membaca tulisan saya, yang ada dia malah tertawa sejadi-jadinya. Kan ngeselin! Bukanya bantuin. Dasar itu bocah.

Mungkin karena risih membaca tulisan adiknya yang acak-acakan, akhirnya dia mencoba menulis biografi dan harapan saya dengan gaya bahasanya. Nggak sampai satu jam dia sudah selesai. Dan dengan senyum mengejek dia bilang, “ Nih baca tulisanku, cerita itu kayak gini, ngalir. Nggak kaya punyamu yang amburadul”.

via 500px.com

via 500px.com

Sempat marah sih, daripada saling mengejek dan nggakselesai tugasnya mendingan saya akui kekalahan saya. Lalu saya copy tulisanya. Masukin ke laptop sendiri, gaya bahasanya saya edit menurut gaya saya. Akhirnya selesai. -Maaf ya mas Vatih, kemarin bukan murni tulisan saya sendiri. Tapi saya berjanji kok akan belajar sungguh-sungguh dan taat peraturan-

Tanpa pikir panjang masukin website sintesa. Dan sent! Tinggal menunggu hari pengumuman tiba.

Tes yang Mendadak

ujian

via pixabay.com

Dua hari sebelum pengumunan resmi dari Sintesa, tepatnya tanggal 2 agustus 2016 tiba-tiba telepon berdering dengan nomer tidak dikenal, ketika saya sedang asik-asiknya nonton film.

Saya angkat teleponnya, beginilah kira-kira percakapanya:

Sintesa : Assalamualaikum. Perkenalkan saya Ragil dari sintesa. Apakah benar ini dengan mas Pamungkas Adipura?

Saya : Dengan deg-degan saya menjawab, “Waalaikumsalam. Benar dengan saya sendiri.”

Sintesa : “Apakah mas Pamungkas mendaftar sebagai santri sintesa. Dan sudah tau, kalau syaratnya utamanya adalah bisa membaca al-quran dengan lancar?”

Saya : “Iya. Saya ikut pendaftaran itu. Belum tau sih, tapi kalau mau dites bacaan saya juga gpp sih. Mau lewat phone apa saya yang datang kesana?”

Sintesa : “Oke. Lewat phone aja mas. Silahkan baca surat ali imron.”

Saya : “Tunggu sebentar ya, saya mau mengambil dahulu.” Padahal waktu itu saya lagi nggak punya wudlu. Lalu membaca al-quran dengan deg-degan dan nafas terbata-bata.

Sintesa : Sampai ayat ke-9 saya membaca. “Cukup mas, nanti kalau diterima. Saya akan menelepon ibu anda untuk mendapatkan persetujuan. Terima kasih. Assalamualaikum.”

Saya : “Oke. Terima kasih. Walaikumsalam wr.wb”.

Pengumuman

Tepat tanggal 4 agustus 2016. Hari dimana pengumuman sintesa. Pengumuman akan diposting di facebook siang hari. Oke kita lihat saja nanti.

Saya melakukan kegiatan seperti biasa. Bersih-bersih rumah, posting foto di bukalapak dll sampai tidak sadar saya tertidur. Ketika bangun ternyata sudah jam 2 siang. Buru-buru tuh ambil wudlu dan bergegas sholat dzuhur.

Setelah sholat, saya membuka hp karena mau membuka facebook. Sebelum membuka facebook, ternyata ada sms dengan nomer tidak dikenal. Kira-kira bunyinya begini. “Mas pamungkas, kamu diterima menjadi santri sintesa angkatan 4. Kira-kira mau kesini kapan? Furqon Alwi.”

Buru-buru saya balas sms itu. “Kira-kira tanggal 8 mas Furqon, dua hari sebelum hari aktif mau saya gunakan buat adaptasi. Boleh kan?”. Dan dijawab oleh Furqon, “Oke. Boleh kok, kami tunggu kedatanganya.”

Wohoho, finally done. Mari kita merubah hidup kawan. Untuk masa depan yang lebih baik. Amiin!

Berangkat

naik bus

Naik bus via 500px.com

Sebelum berangkat ada saja cobaanya. Ayah saya tiba-tiba berbicara, “Beneran di cek ya kalau nggak sealiran langsung pulang aja.” Tampak ketidakyakinan dalam ekspresinya. Saya memaklumi hal itu.

Sekarang kondisi islam di Indonesia, khususnya di dunia maya sudah dalam kondisi genting. Tidak ada kata malu, hujat menghujat membabi buta, perbedaan pendapat dalam hal remeh-temeh dibesar-besarkan dan yang paling menyedihkan adalah tidak ada kata sungkan untuk mengkafirkan saudara seiman sendiri. Naudzubillahi min dzalik.

Namun hati saya sudah mantab untuk berangkat. Segala sesuatu sudah dipersiapkan. Dan hari pemberangkatanpun tiba. Karena saya yakin sintesa itu bagus. Dan nanti saya akan membuktikanya sendiri.

Saya berangkat dari Tulungagung menggunakan bus dan turun di Kertosono. Setelah sampai kertosono, saya pindah bus jurusan Jogja dan turun di terminal Maospati. Sesampainya di Maospati saya lanjutkan dengan naik ojek tujuan pondok Jaranan -sebutan sintesa di Magetan- Kecamatan Kawedanan.

Sekitar 20 menit perjalanan sudah sampai tujuan. Saya diturunkan tepat di masjid al-huda di depan yayasan badrussalam. “Ini mas pondok jaranan itu” kata bapak ojek. “Oke pak, matur suwun nggih” jawab saya.

Namun ada hal janggal di pikiran saya. Kok nggak ada papan yang bertuliskan Pesantren Sintesa ya. Atau jangan-jangan si bapak ojeknya ngacau. Tapi, setelah saya cek di website bener kok. Wah nggak lucu nih. Sholat dulu aja lah, barangkali setelah sholat ada petunjuk.

Cerita bersambung ke part 2!

Leave a Reply