Backpacker ke Kuching Malaysia Nasionalisme Semakin Bergelora

“Travelling is not just about destinations, the main points are about learning and enjoying everything along the trip” Backpacker. Ya, istilah itu sekarang mungkin sudah tidak asing bagi kita. Apalagi bagi yang melek sosial media dan mengikuti trend kekinian. | pixabay.com

Travelling is not just about destinations, the main points are about learning and enjoying everything along the journey

Backpacker ke Kuching Malaysia sebenarnya sudah saya lakukan sejak tahun 2014. Itu artinya sudah berjalan dua tahun yang lalu. Perjalanan kala itu merubah cara pandang saya untuk lebih mencintai Indonesia. Persahabatan, intrik dan tantangan akan memberi warna pada kisah ini. Lanjuutt…

Awal Mula yang Menyesatkan

via pixabay.com

via pixabay.com

Saya adalah salah seorang penggemar Bapak Prof. Rhenald Khasali, salah satu guru besar di Universitas Indonesia. Saat beliau meluncurkan buku barunya yang berjudul Self Driving –sekitar bulan oktober 2014– tanpa berpikir panjang, saya tancap gas ke gramedia dan langsung membelinya.

Lembar demi lembar saya membaca buku tersebut, tiba-tiba saya menemukan sebuah kalimat yang menggelitik dan perlahan-lahan mengganggu pikiran saya. Kalau tidak salah bunyi kalimatnya begini, “Kalau kamu ingin meningkatkan jiwa nasionalismemu, pergilah ke Kuching Malaysia dengan naik bus dari Pontianak.”

Saya yakin ketika Pak Rhenald berkata demikian pasti ada maksud didalamnya. “Okeee, Backpacker ke Kuching kelihatanya keren.” pikir saya waktu itu. Dan seketika langsung masuk daftar list hope.

Tidak Sengaja yang Mengubah Warna

via pixabay.com

via pixabay.com

Kala itu saya awal masuk kerja di salah satu kedai kopi di Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, saya mulai mengenal satu persatu karyawan didalamnya. Kehangatan suasana kerja membuat waktu cepat berlalu. Saling senyum dan sapa menimbulkan keakraban yang berlanjut hangout diluar jam kerja.

Semua bercerita tentang pengalaman pribadinya masing-masing. Obrolan mengalir dengan hangat. Hobi, kuliah, musik, travelling dan cinta tumpah dalam alur cerita yang indah.

Tapi sayang, tidak sampai dua bulan saya bekerja di kedai kopi tersebut. Karena ada permasalahan keluarga saya memutuskan untuk resign.

Selang satu bulan -tepatnya Desember 2014- setelah saya keluar dari tempat kerja. Tiba-tiba teman saya menelpon dan bilang, “Bro, backpacker ke Brueni yuk? Gue punya kenalan disana. Barang kali sekalian jalan-jalan kita dapat kerjaan disana, kan lumayan duit sana gede. Hahaaha. Biaya transport gue yang tanggung, lu tinggal modal badan doang. Gimana, mau kagak?”

Tanpa babibu saya mau menerima tawaran dia. “Luyaman diajakin main ke LN gratis.” pikir saya dalam hati. Dan mulai saat itu juga saya langsung googling all about Brueni. Mulai dari transportasi, hostel, obyek wisata sampai makanan khas semua sudah tercatat dengan rapi.

Prepare Pemberangkatan

Sampai disini mulai timbul masalah-masalah baru. Mungkin karena belum pernah backpacker-an ke luar negeri kekhawatiran-kekhawatiran datang dan pergi. Permasalahan kecil sampai besar timbul tenggelam. Diskusi perlahan memanas, mulai dari pertanyaan Kita naik pesawat atau lewat jalur darat? Gimana kalau nanti makananya nggak cocok? Gimana caranya lolos dari imigrasi? dll.

Mungkin karena keinginan lebih kuat daripada ketakutan, hambatan demi hambatan akhirnya menjadi penyongsong semangat. “Dan bukanya tersesat itu akan menunjukan jalan baru?” kata pepatah. Hati semakin bergelora dan tekad sudah bulat. Kita Berangkat!!!

Akhirnya setelah diskusi panjang lebar, kami sepakat untuk berangkat dengan naik pesawat dari Yogyakarta ke Pontianak. Dari Pontianak lanjut naik bus ke Bandar Seri Begawan. Dan untuk penginapan, kami akan tinggal dirumah teman.

Berangkat!

via 500px.com

via 500px.com

Hari yang ditunggu pun tiba -kalau nggak salah 28 Desember 2014-! Kami berangkat dari bandara adisucipto sekitar jam 10.00 wib dengan menggunakan pesawat kalstar. Perasaan sudah campur aduk, saking bahagianya sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hahaha. Alay!!

Cerita sebenarnya dimulai dari sini. Kami berdua duduk dengan wanita asal Klaten, Jawa Tengah yang kebetulan sudah 7 tahun bekerja di Bandar Seri Begawan sebagai koki kedai makan. Dia bercerita tentang bagaimana hukum di brueni, sistem kerja disana, susah senang sebagai TKI dll.

Tanya jawab terus kami lakukan agar mendapat banyak infomasi tentang brueni. Anehnya, ternyata teman saya secara diam-diam ingin kerja disana sebagai waiter atau koki kedai makan karena mendapat tawaran dari kenalan barunya. Dengan iming-iming gaji tinggi, karena tempatnya kerjanya adalah milik kenalanya itu.  Wohoho.. Eng Ing Eng!!!

Mungkin si ibu yang dari klaten itu agak curiga dengan gelagat kami, akhirnya dia bertanya kemana tujuan kami. Ketika kami jawab Brueni, ibu tersebut lanjut bertanya, “Ngapain?”. Teman saya dengan enteng menjawab, “Jalan-jalan sekaligus cari kerja.”

Dengan semangat teman saya bercerita tentang tawaran kawan barunya itu. Belum sampai klimaks bercerita, si ibu langsung memotong, “Hati-hati mas, jangan-jangan si mas ini mau ditipu. Saya sudah pengalaman 7 tahun kerja di Brueni, tidak ada kerja yang semudah dan semanis itu. Mumpung ini masih di Indonesia mending dipikir-pikir dulu. Kalau mau, saya di Pontianak ada taksi langganan yang biasa nganter ke terminal. Soalnya bus menuju brueni baru berangkat sekitar jam 07.00 besok daripada nginep di hotel habis duit banyak. Kita nginep di rumah taksi langganan saya saja. Sekalian memastikan kenalanya mas itu bener apa ndak. Kalau mau barengan aja, gimana?”

Doweng!!! Hati saya mulai bergejolak, ternyata ada maksud ganda dalam perjalanan ini. Dan sekarang udah terlanjur basah naik pesawat yang sebentar lagi sampai Pontianak. Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari si ibu, kami langsung bertatap muka.

“Gimana Bro?” tanya saya. Teman saya menjawab, “Lihat saja nanti. Kita pastiin teman gue dulu.” Waktu sungguh berjalan cepat. Pikiran saya mengembara kemana-mana. Dan secara tidak sadar pesawat pelan-pelan mendarat di bandara Supadio Pontianak.

Kami pun harus berpikir cepat apakah balik lagi pulang atau melanjutkan perjalanan. Sementara kami sudah mengambil tas yang turun dari bagasi dan berjalan di di belakang si ibu, karena sudah bingung mau melakukan apa. Tiba-tiba si ibu bertanya, “Mas saya sudah telpon taksi langganan saya, jadi gimana keputusanya?.” Sontak lamunan pun pecah dan seketika kami beradu pandang mata. Keputusan cepat pun diambil, akhirnya kami sepakat untuk ikut si ibu dan memastikan kawan teman saya itu.

Pontianak yang Membuat Gundah

Sungai Kapuas via 500px.com

Sungai Kapuas via 500px.com

Saya pun baru tahu kalau banyak orang Pontianak yang bekerja sebagai taksi gelap dan menyewakan rumahnya. Biasanya yang berlangganan adalah TKI yang bekerja di Brueni atau Malaysia bagian Borneo. Mereka memanfatkan tenggang waktu jadwal pemberangkatan bus.

Karena pada umumnya pesawat dari Jawa sampai di bandara Supadio itu sekitar jam 13.00-15.00 wib, sedangkan bus yang berangkat ke brueni umumnya sebelum tengah malam atau sekalin pagi keesokan harinya. Untuk tarifnya pun lebih murah daripada hotel di samping terminal. Makanya banyak orang memilih alternatif ini.

Dalam perjalanan menuju rumahnya, bapak pemilik taksi bertaya kepada kami, mau kemana dan akan naik bus apa. Si ibu dengan sigap langsung menceritakan kisah kami yang ingin mencari pekerjaan, karena percaya pada iming-iming yang cenderung kearah penipuan tersebut.

Si bapak pun ikut membenarkan. Dia sudah berkali-kali melihat banyak orang indo yang lontang lantung jadi pelarian di negeri jiran karena tidak punya visa, yang pada umumnya terhasut oleh janji-janji manis sang pemberi pekerjaan.

Sesudah sampai dirumah, si bapak langsung berkata, “Coba mas, teman yang mau ngasih kerjaan itu ditelpon. Saya mau dengar apa kata dia. Nanti kita diskusi bareng-bareng. Saya miris lihat mas berdua ini, tampilan udah keren gitu masak mudah banget ditipu. Oh ya lupa, saya cuma mau ngingetin kalau yang disebut restoran di malaysia dan brueni itu mungkin kayak warung makan pinggiran di Jawa. Nggak sebesar yang kalian bayangkan. Jadi jangan mudah tertipu sama kata-kata.”

Kami pun tersenyum kecut mendengar ucapan si bapak. Tanpa membuang waktu teman saya pun menelpon kawan barunya itu. Dan benar, nomer yang ditelpon ternyata tidak aktif. Berkali-kali dicoba pun tetap sama. “Gusti Allah… kami ditipu,” ucap saya dalam hati. Pikiran pun mulai berkecamuk. Yang tadinya senang mendadak berubah jadi getir.

Saya pun jadi kasihan melihat perubahan raut muka teman saya. Udah terlanjur mengeluarkan duit banyak ternyata malah ditipu. Si bapak memberi tahu kalau booking tiket bus maksimal harus dilakukan jam 18.00 wib. Sekarang waktu menunjukan di angka 14.35 wib. Tidak memiliki waktu panjang untuk berpikir. Kami harus memilih. Lanjut ke Brueni atau Malaysia karena itu yang dekat dengan pontianak, atau sekalian balik pulang.

Setelah diskusi yang lumayan menguras emosi, karena berbagai pertimbangan akhirnya kami putuskan untuk batal ke Brueni dan beralih ke Kuching. Ada ungkapan dari teman saya yang mungkin tidak akan saya lupakan. Dia bilang begini, “Bro, kita udah ditipu dan sekarang jauh-jauh sampai ponti. Duit udah terlanjur banyak keluar, rugi kalau kita pulang tanpa membawa cerita. Ya udah sekarang kita habis-habisan aja ngebolang ke kuching. Perkara ngapain disana itu urusan nanti.

Kami langsung ngomong ke si bapak untuk membelikan 2 tiket ke kuching dan menukar duit beberapa ratus ribu rupiah ke ringgit untuk jaga-jaga. Selain itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada si ibu dari klaten yang sudah mengingatkan dan memberi nasehat. Fixed pukul 20.00 wib. Backpacker ke Kuching.

Backpacker ke Kuching Modal Nekad!!!

via pixabay.com

via pixabay.com

Setelah berpamitan kepada keluarga si bapak dan ibu dari klaten itu kami diantar ke terminal. Siap berperang kawaaan!! Taklukan daerah baru. Tanpa peta dan hape kala itu masih bb gemini yang ngga bisa dibuat googling. Semua nol. Cuman modal nekad. Haha!

Waktu menunjukkan angka 20.00 wib, bus sudah siap. Okee. Otw kuching. Dalam perjalanan saya melamun dan menerawang ke belakang, membayangkan kegilaan yang sudah kami lakukan. Seakan tidak percaya, dream come true kawan!!

Lamunan saya buyar, bapak kondektur menginstruksikan untuk tidur karena besok pukul 05.00 pagi kita harus antre di pintu gerbang imigrasi. Dan saya pun tidur, tidak memungkinkan juga untuk melihat pemandangan karena kegelapan malam.

Keesokan paginya kami dibangunkan oleh pak kondektur, disuruh turun untuk mengantree di pintu gerbang imigrasi. Sehabis turun dari bus, saya melihat, ternyata banyak sekali orang indonesia yang akan pergi ke malaysia mungkin juga brunei.

Saya tidak tahu benar apakah mereka itu TKI atau sekedar berbelanja ke negeri jiran. Tetapi kalau dilihat dari cara berpakaian sangat jelas bahwa sebagian orang Indonesia itu adalah TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan buruh kasar.

Pintu gerbang dibuka. Semua yang tadinya berbaris rapi kini berdesak-desakan agar cepat sampai di pengecekan paspor kantor imigrasi. Seketika hati saya miris melihat saudara sebangsa dibentak-bentak secara kasar, di maki-maki entah karena tidak bisa menjawab pertanyaan atau mungkin data diri yang tidak lengkap.

Sebagai konsekuensinya mereka harus siap terlantar di imigrasi. Karena bus yang ditumpangi akan melanjutkan perjalanan ke negeri jiran. Dan mereka harus menunggu bus keesokan harinya untuk kembali pulang dengan tangan hampa.

Hallo Kuching We are Coming!!

Kuching Serawak via 500px.com

Kuching Serawak via 500px.com

Imigrasi yang memperlihatkan kepiluan mengajari saya tentang arti bersyukur karena diberi kehidupan oleh Tuhan yang lebih dari sekedar indah. Sementara bus melaju kencang meninggalkan imigrasi. Saya melihat pemandangan sekitar yang indah, jalannya mulus dan lebar, dihiasi trotoar yang bersih dan tertata. Banyak sekali dijumpai kebun sawit serta karet sepanjang mata memandang.

Tak terasa kami sudah sampai terminal kuching. Hal yang pertama saya pikirkan setelah sampai di kuching adalah mencari masjid. Karena dimanapun tempatnya Rumah Tuhan adalah tempat peristirahatan yang gratis. Haha!! Cukup puas merebahkan badan. Lanjut makan sejenak sekaligus mengelilingi terminal kuching yang seperti mall.

Puas mengelilingi terminal, kami lanjutkan mencari bus ke arah pusat kota. Karena kami tidak tahu bus mana yang harus dinaiki. Secara random kami memilih yang kelihatnya enak dipandang. Walaupun aslinya semua sama. Mungkin melihat kami celingak-celinguk, seorang bapak separuh baya menghampiri dan bertanya, “Hei Bro, asal you darimana?”. Dengan spontan kami menjawab, “Indonesia Uncle!”.

“Samalah kita, saya dari pontianak. Kalian tampak bingung. Ini saya lagi jadi guide kawan saya yang belum pernah datang kemari. Besok di kota akan ramai banyak orang, sebab ada peringatan hari kemerdekaan. Kebetulan besok pontianak mewakili lomba dayung sampan di kota.

Bersambung!!

Leave a Reply