Jualan Pisang dan Candi Gedong Songo

candi gedong songo

Candi Gedung Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak terletak di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Candi Gedung Songo ditemukan oleh Raffles pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 tahun 927 masehi. via www.idsejarah.net

Liburan tanpa jalan-jalan itu seperti malam tanpa bintang coy. Haha! Saya banyak bercerita tentang travelling itu bukan semata untuk biar kelihatan keren, gagah ataupun yang lainnya. Banyak yang diambil pelajaran di dalamnya.

Diantaranya adalah skill untuk bertahan hidup dan lebih bersyukur dengan apa yang kita punya.

berjalan

via pixabay.com

Kenapa bisa seperti itu? Karena kalau kita amatin, waktu travelling kita akan menjamah tempat yang sama sekali baru. Sebelum berangkat pastinya kita mencari informasi tentang tempat yang mau dijadikan tujuan. Apakah tempat itu aman? Touris friendly atau tidak? Aksesnya mudah atau tidak? Dll

Setelah preparation siap, baru kemudian berangkat ke tempat tujuan. Di jalan kita akan menemui beragam manusia, yang kadang bisa membuat terenyuh karena di anugerahi nasib yang jauh di bawah kita, kadang kala juga bertemu dengan orang yang jauh diatas kita. Nah, dari situlah proses pembelajaran dimulai.

Untuk itu kali ini saya akan mencoba berbagi cerita perjalanan ke Candi Gedong Songo, Semarang.

Provokasi

Tepatnya liburan tahun baru sewaktu SMA, kalau tidak salah tahun 2011. Saya menodong salah satu teman di pesantren untuk mau mengajak saya main ke kampung halamanya yang terletak di Desa Banyuijo, Kecamatan Bandungan, Semarang. Sebut saja namanya Bethet.

Waktu itu saya mondok di Kediri, lumayan jauh memang dari Kediri ke semarang. Makanya dia agak malas gitu untuk diajak pulang, tapi kemalasan dia masih kalah dengan kengeyelan saya. Masak iya tahun baru cuman diem doang, kan nggak asik.

Akhirnya setelah kalah beragumentasi dengan pasrah si bethet mengikuti kemauan saya. Setelah menentukan hari dan persiapan. Kami berangkat 4 hari sebelum tahun baru dengan perasaan saya yang menang. Haha!

Gas! Semarang

Kami berangkat dengan naik bus dari Kediri tujuan Kertosono, transit di kertosono lalu dilanjutkan ke solo dan dari solo ke tujuan terminal Bandungan, Semarang. Tiga kali pergantian bus. Cukup melelahkan sih, namun setelah sampai bandungan lelah itu hilang. Karena hawa dingin pegunungan merasuk ke jiwa. Hmmm!

Sesampai di terminal Bandungan kami dijemput oleh keluarga bethet. Senang tetapi juga bingung, aksen orang semarang medok nya ngawur, membuat saya berpikir keras mencerna setiap kata. Sorry ya bro. Tapi itu beneran. Haha!

berpikir

Berpikir Keras via pixabay.com

Baru setelah sampai rumah, saya menanyakan apa destinasi yang wajib dikunjungi kalau main kesini. Zaman itu belum terbiasa menggunakan google, semua masih rekomendasi dari orang, jadi tingkat validitasnya sangat relatif.

Kata bethet, ada satu destinasi andalan yang dimiliki Bandungan yaitu, Candi Gedong Songo. Tanpa pikir panjang saya mengajak bethet ke sana. Namun tidak semudah itu berangkat ke Gedong Songo, saya harus mengikuti syarat dari orangtua bethet dahulu yaitu, Jualan Pisang.

Jualan Pisang

Ya benar, jualan pisang di salah satu kedai pasar Bandungan. Karena bapak si bethet adalah juragan pisang yang cukup ternama disana. Dan mungkin juga ini adalah pendidikan bisnis yang diajarkan sejak dini untuk masa depan si bethet. Keren abis!

Kelihatannya gampang, cukup jaga lapak ntar kalau ada yang beli tinggal di masukan plastik, bayar lalu selesai. Oke, kita coba kawan!

Kenyataan emang sering meleset dari apa yang dipikirkan. Kami harus menghafal jenis pisang yang seabrek itu. Selain itu, kami cuma diberi secarik kertas untuk keterangan harga dasar, selanjutnya improvisasi. Dan yang paling ngeselin adalah orangtua bethet meninggalkan kami di pasar tanpa sedikitpun keraguan.

Mau tau hasilnya? jelas amburadul, kami lambat dalam memahami jenis pisang dan kaku dalam negosiasi. Alhasil, setengah hari pertama tanpa penjualan. Pahit, tapi itulah bisnis.

Ibunya bethet datang ke kedai untuk mengantarkan makan siang dan mengecek sudah berapa penjualan kami hari ini. Tahu kalau hasilnya nihil, beliau hanya tertawa sambil berkelakar yang hanya membuat kami malu. Dalam hati saya mendesah, “Kapan ini berangkat ke Gedong Songo?”

Lalu dengan santai si ibu ngomong, “Ya wes, lihat aku ya mas. Kamu tak ajarin caranya dagang. Dagang itu simpel kok asal tahu caranya”. Siaap ibuu. Masak iya semudah itu menjual sebegitu banyak pisang.

Dan benar, ketika si ibu baru duduk di lapak, langsung tuh ada orang masuk. Si ibu menebarkan senyuman ke calon pembeli, lalu mengajak basa-basi permasalahan yang nggak penting dan di akhir langsung menodong butuhnya pisang apa dan berapa.

Wow! Sekali nego langsung terjual beberapa tundun –satuan pembelian pisang di desa- sekaligus guys. Emang benar, skill bisnis itu harus dilatih sejak dini dan jam terbang akan membuktikan keakuratan mengenai semua teori.

Karena kami sudah berkenan untuk mencoba jualan. Orangtua bethet mengizinkan kami untuk pergi ke Gedong Songo keesokan harinya.

Akhirnya Gedong Songo

candi gedong songo

candi gedong songo via panoramio.com

Hari yang ditunggu pun tiba. Saya tidak berani berangkat terlalu pagi, karena cuacanya dingin sekali. Pukul delapan, mentari mulai menyingsing dari ufuk timur, menyapa dengan kelembutan sinarnya. Ayo gass Gedong Songo kawan!

Dengan menggunakan motor, dari Banyuijo ke Gedong Songo hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai. Motor diparkir. Kami lanjutkan dengan mendaki.

Gedong songo itu adalah sebutan sembian candi yang terletak di Gunung Ungaran. Dengan urutan candi ke satu hingga Sembilan dengan total ketinggian 1200 m diatas permukaan tanah.

Yang kita butuhkan hanyalah berjalan menaiki tangga selangkah demi selangkah sampai puncak. Kalau mempunyai uang berlebih bisa juga dengan menikmati sensasi naik kuda, tapi itu hanya mengantarkan sampai candi ke lima saja.

Candi ke satu dan dua sudah terlampaui, di candi ke tiga saya mulai terpengaruh oleh enaknya berendam di pemandian air hangat. Ditambah suasana yang dingin, godaan itu semakin menjadi-jadi. And finally, saya memutuskan untuk mengakhiri pendakian dan langsung berendam. Payah!

via 500px.com

via 500px.com

Berendam air panas di ketinggian dengan background gunung memberi sensasi yang berbeda. Saya bisa merasakan waktu berjalan begitu lambat dengan menikmati belaian air panas bercampur belerang. Oh indahnya suasana itu!

Tidak terasa waktu menunjukan angka dua belas, tidak terasa saya berendam cukup lama disini. Done kawan waktunya kembali.

Walaupun tujuan utama gagal tercapai. Namun saya cukup bersyukur dengan apa yang saya alami. Setidaknya tahun baru tidak diem doang dirumah. Alhamdulillah pulang bisa membawa cerita dan pengalaman yang menarik untuk dibanggakan.

Semoga Bermanfaat!!

Dunia itu ibarat sebuah buku. Dan mereka yang tidak melakukan perjalanan berarti hanya membaca satu halaman.

Leave a Reply