Pesantren dan Semua yang Ada

jam, waktu dan topi

500px.com

Sejarah akan selalu indah untuk dikenang. Bersama secangkir kopi di suasana pagi dengan sang surya yang malu-malu menunjukkan senyum centilnya. Laksana pedang, waktu tanpa babibu memotong dirinya, setiap detik, menit, jam, hari bahkan sampai tahun.

Tidak terasa keceriaan di waktu kecil sudah berlalu. Berganti dengan kesibukan-kesibukan demi melanjutkan sendi-sendi kehidupan.

Kali ini kita akan bernostalgia sejenak, mengenang masa lalu. Mengambil sesuatu yang baik untuk panduan menatap masa depan. Pondok Pesantren, dari situlah semua bermula.

Di tengah Kota Kediri

Tepat di barat jembatan baru kota Kediri. Dengan gagah sebuah menara menjulang tinggi, sebagai eksistensi identitas diri. Pondok Pesantren Al-Ishlah. Yup, itulah tempat saya tinggal, tempat untuk belajar agama dan kehidupan yang penuh dengan kedamaian, persis seperti namanya.

Pesantren Kecil Penuh Filosofi

pesantren

akdn.org

Walaupun kecil namun semua konsep bangunanya sangat tertata dan penuh filosofi. Itulah yang membuat saya betah dan ingin selalu kembali pulang.

Di atas pintu gerbang pesantren tertulis lantunan ayat yang indah dan selalu mengajak kita untuk berserah kepada Tuhan. Bunyinya seperti ini, “Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar. Dan keluarkanlah (pula) aku ke tempat yang benar. Dan berikanlah kepadaku dari sisiMu kekuasaan yang dapat menolong(ku). -QS. 17:80

Ketika sudah mulai masuk pintu gerbang kita disuguhi pemandangan menara Al Arafah yang tegak berdiri, lengkap dengan kata-kata alarm, “Cepat-cepatlah tobat sebelum datangnya kematian. Cepat-cepatlah mendirikan shalat sebelum datangnya kematian”. Jleb!

Namun kalimat ngeri itu buru-buru diredamkan dengan makna kelima bangunan komplek asrama yang didiami para santri.

“Barang siapa bersedia melayani. Kelak ia akan dilayani”. -Pepatah Arab

Al Fattah

masjid turki

pixabay

Setelah melihat kemegahan menara Al Arafah, semua yang datang akan disambut oleh komplek pertama yang bernama Al Fattah yang artinya Pembuka.

Jadi, diharapkan setiap manusia yang singgah ke pesantren, selain diberikan tempat masuk yang benar dan diingatkan dengan kata-kata alarm. Selanjutnya hatinya akan terbuka untuk menerima ilmu dan kebenaran.

Al Mubarrakah

Semakin masuk ke dalam pesantren, komplek kedua yang bernama Al-Mubarrakah yang artinya diberkati siap menyapa dengan senyum ramahnya.

Setelah hati menjadi terbuka untuk ilmu dan kebenaran. Diharapkan setiap pembelajar akan diberi berkah oleh Allah.

Sejujurnya, saya tidak habis pikir Mbah Kyai kok sempat-sempatnya membuat gambaran yang mengandung doa dan peringatan seperti itu, bahkan sampai tata letak bangunan pun harus berfilosofis agar kita senantiasa eling dan waspada.

Al Munawwarah

Inilah komplek asrama saya. Dulu, ketika di pesantren komplek asrama seakan mengelompokkan santri yang berkarakter sama. Al Fattah dan Al Hurriyah dengan orang-orang rajin nya, Al Mubarrakah dengan santri paling badung, slengekan namun penuh tawaduk terhadap guru dan As Saadah dengan kumpulan preman tobatnya.

Nah, Al Munawwarah ini tempatnya orang-orang kaya dan suka banget foya-foya. Maksudnya dari keempat asrama, yang paling sering jalan adalah komplek saya. Entah ke pantai, gunung maupun bersilaturrahim ke rumah para anggota asrama. Sampai-sampai dimarahin oleh pengurus pondok. Haha!

makan ala arab

i496.photobucket.com

Selain itu, komplek saya yang paling sering mengadakan pesta atau istilah pesantren dikenal dengan mayoran. Pesta yang agenda sebenarnya cuman masak-masak doang. Jangan salah, walaupun kami cowok tapi menyangkut soal masak, nggak kalah loh. Serius! Habis itu dimakan secara berjamaah dalam sebuah nampan. Sederhana sih, tapi emang benar bahagia itu nggak harus mahal kok.

Oh iya lupa, hal yang paling seru dari semua itu adalah membuat asrama lain envy. Yaitu pamer dengan membawa nampan sambil teriak-teriak nggak jelas mencari perhatian. Oh indahnya masa kesongongan itu!

Pernah juga ketika musim durian tiba, asrama kami membeli satu karung buat dimakan rame-rame. Yang ngeselinya itu ketika sehabis makan kulitnya itu dirangkai kembali lalu digantung di depan kamar masing-masing.

Dan itu hanya sekedar buat eksistensi saja, selain juga ingin menyebarkan semerbak harumnya. Haha!

Kan, jadi ngelantur kemana-mana. Kita kembali bahas pesantren. Setelah hati terbuka oleh ilmu dan kebenaran, lalu terberkati. Selanjutkan adalah memancarkan sinar, sesuai dengan makna asrama kami Al Munawwaroh.

As Saadah

Setelah melewati asrama Al Munawwaroh, akan disambut dengan komplek As Saadah yang bermakna keberuntungan. Sungguh mulia sekali bukan?

Al Hurriyah

Lengkap sudah semua susunan maupun tahapannya. Manusia yang benar jalannya, selalu tobat dan shalat sebelum datang kematiannya, lalu hatinya terbuka oleh ilmu dan kebenaran, setiap langkahnya diberkati, auranya memancarkan sinar kemanfaatan bagi sesama dan hidupnya dipenuhi keberuntungan.

Manusia seperti itulah yang disebut sebagai Merdeka, seperti makna dari komplek asrama Al Hurriyah.

Begitu luhur doa-doa yang telah kau rangkai. Semoga engkau mendapatkan surga bersama dengan orang-orang berderajat mulia. Kecintaanmu terhadap Allah dan RosulNya terpancar melalui kasih yang yang engkau berikan kepada kami. Yang tercinta Syeikh Toha Mu’id. Al Fatihah!

Semoga Bermanfaat!

Leave a Reply