Biografi Soeharto “Bapak Pembangunan Nasional”

Biografi Soeharto – Jenderal Besar TNI Haji Muhammad Soeharto yang akrab disapa Pak Harto merupakan seorang tokoh besar di Indonesia. Beliau memimpin Republik Indonesia, selama 32 tahun. Suatu kemampuan kepemimpinan luar biasa yang harus diakui oleh teman dan lawan politiknya walaupun senang atau tidak.

Biodata Soeharto

Nama LengkapSoeharto
ProfesiBirokrat
Tempat LahirKemusuk, Yogyakarta
Tanggal LahirRabu, 8 Juni 1921
AgamaIslam
Warga NegaraIndonesia
IstriFatimah Siti Hartinah Soeharto
AnakSiti Hardijanti Rukmana (Tutut), Sigit harjojudanto (Sigit), Bambang Trihatmodjo (Bambang)
Siti Hediati Hariyadi (Titiek), Hutomo Mandala putra (Tommy), Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek)
PendidikanSD Pedes Yogyakarta
SMP Muhammadiyah di Yogyakarta
Sekolah Militer di Gombong, Yogyakarta
KarirAnggota TNI
Komandan Brigade Garuda Mataram
Komandan Resimen Infanteri 15 berpangkat Letnal Kolonel
Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum AD)
Panglima Komando Mandala (Pasukan Pembebasan Irian Barat)
Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad)
Panglima Kopkamtib
Mayor Jenderal
Presiden Kedua RI (1966-1998)
PenghargaanBapak Pembanngunan Nasional
Bintang Mahakarya Gotong Royong dari Ormas Musyawarah Gotong Royong

Biografi Singkat Soeharto

Ketika Presiden Soeharto masih aktif di dunia kemiliteran

idntimes.com

Jenderal Besar TNI Purnawiran Haji Muhammad Soeharto ialah Presiden kedua Republik Indonesia. Ia lahir di Kemusuk, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921. Ayahnya bernama Kertosudiro, merupakan petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam mengairi sawah Desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.

Soeharto kecil mulai masuk sekolah ketika berumur delapan tahun, namun ia sering pindah karena keluarganya juga pindah rumah. Sampai akhirnya pada tahun 1941 ia terpilih menjadi prajurit teladan di sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah.

Kemudian pada tahun 1945 lebih tepatnya tanggal 5 Oktober, Soeharto resmi menjadi anggota TNI. Genap di usia 26 tahun ia menikah dengan Siti Hartinah atau yang akrab dengan sapaan Ibu Tien yang kala itu berusia 24 tahun, seorang anak pegawai Mangkunegaraan.

Pernikahan keduanya dilangsungkan di Solo pada tanggal 26 Desember 1947. Soeharto dan Ibu Tien dikaruniai enam orang putra yakni, Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo mandala dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Bisa dibilang Soeharto telah menapaki perjalanan panjang nan berliku di dalam karir militer dan politiknya. Di dunia militer, orang yang akrab disapa Pak Harto ini memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, lantas naik pangkat ke komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan Batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Pada tahun 1949, ia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan Kolonial Belanda kala itu. Soeharto juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman. Tidak hanya itu, ia juga pernah menjadi Panglima Mandala (pembebasan Irian Barat).

Pada tanggal 1 Oktober 1965, meletuslah kecamuk G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangab (Panglima Angkatan Bersenjata), Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno.

DI Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin besar revolusi Bung Karno.

Masa Pemerintahan Presiden Soeharto

Presiden Soeharto bersama dengan pemerintah Belanda

wikimedia.org

Dikarenakan situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Soeharto sebagai Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga tiga puluh tahun lewat enam kali Pemilu, sampai Beliau mengundurkan diri, 21 Mei 1998.

Tetapi, akhirnya ia harus meletakkan jabatan secara tragis, bukan semata-mata sebab desakan demonstrasi mahasiswa pada 1998, melainkan lebih akibat pengkhianatan para pembantu dekatnya yang sebelumnya ABS dan Ambisius tanpa fatsoen politik.

Ayah enam anak ini pun menunjukkan ketabahan dan keteguhannya. Ia akhirnya sempat diadili dengan tuduhan korupsi, penyalahgunaan dana yayasan-yayasan yang ia didirikan. Soeharto menyatakan bersedia bertanggungjawab atas dana yayasan tersebut.

Namun, ia pun jatuh sakit yang menyebabkan proses peradilannya dihentikan. Tetapi tidak semua mantan menterinya tega mengkhianati, tidak mempunyai moral politik. Ada beberapa yang justru makin dekat dengannya secara pribadi setelah tidak lagi memegang tampuk kekuasaan.

Selama masa jabatannya, ia menggerakkan pembangunan dengan strategi Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan). Bahkan sempat mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilan menggapai swasembada pangan pada 1985. Tidak heran, Soeharto mendapat penghargaan sebagai Bapak Pembangunan Nasional.

Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Beliau meninggal dunia dalam usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari, sejak 4 sampai 27 Januari 2008 di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta.

Berita wafatnya mantan Presiden Soeharto pertama kali diinformasikan oleh Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta. Setelah itu, secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi organ.

Baca Juga: Biografi Cut Nyak Dien “Pahlawan Nasional dari Tanah Rencong”

Semboyan Presiden Soeharto

Biografi jenderal besar purnawiran Soeharto

jpnn.com

Presiden Soeharto lahir dan besar di tanah Jawa, tidak heran jika beliau banyak mengambil prinsip hidup dari semboyan-semboyan Jawa, berikut adalah diantaranya.

1. Aja kagetan, Aja gumunan lan Aja dumeh artinya jangan mudah terkejut, jangan mudah terpukau terhadap sesuatu dan jangan sewenang-wenang.

2. Hormat kelawan Gusti, Guru, Ratu lan Wong Tua Karo artinya kita harus hormat kepada Tuhan, guru, pemerintah dan kedua orangtua.

3. Sabar Atine, Saleh Pikolahe lan Sareh Tumindake artinya hati yang senantiasa sabar, saleh dalam beragama dan tingkat laku dan mempunyai kebijaksanaan dalam hidup.

4. Mikul Dhuwur, Mendhem Jero artinya menjunjung setinggi-tingginya dan membenam dalam-dalam. Kalimat ini merupakan peribahasa Jawa yang diamaksudkan menjunjung tinggi nilai luhur dan kebajikan dan membuang segala hal yang tidak baik.

5. Sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, digdaya tanpa aji lan menang tanpa ngasorake. Artinya kaya tanpa kekayaan, menyerbu tanpa bala tentara, kuat perkasa tapi ajian, menang tanpa merendahkan lawan.

Demikianlah uraian mengenai Biografi Soeharto yang dapat kita jadikan pelajaran dalam hidup. Semoga informasi ini bermanfaat. Terima kasih!!

Leave a Reply