4 Contoh Teks Negosiasi dan Strukturnya (Mudah Dibuat)

Secara umum, negosiasi memiliki arti sebagai interaksi sosial yang dilakukan oleh lebih dari dua pihak untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Bentuk tertulisnya dikenal sebagai teks negosiasi. Seperti apa contoh teks negosiasi itu?

Artikel ini menyediakan beberapa contoh teks tersebut, lengkap dengan penjelasan tentang struktur, kaidah atau unsur, ciri-ciri, serta tujuan dari teks negosiasi. Penjelasan selengkapnya adalah sebagai berikut.

Struktur Teks Negosiasi

Struktur Teks Negosiasi

Teks negosiasi terdiri atas tiga struktur, yaitu pembukaan, isi, dan penutup. Isinya sederhana, hanya dibuka dengan salam, kemudian langsung maksud dan tujuan, serta terakhir ucapan terima kasih sebagai penutupnya.

Namun, untuk teks negosiasi dalam jual-beli, struktur teksnya berbeda. Untuk mengetahui letak perbedaannya, silakan simak ulasan di bawah ini.

  1. Orientasi. Bagian ini diisi dengan pembukaan berupa salam dan ucapan terima kasih atas pemberian kesempatan untuk bernegosiasi.
  2. Permintaan. Bagian permintaan diisi dengan penyampaian keinginan terhadap barang atau jasa yang akan dibeli.
  3. Pemenuhan. Bagian ini diisi oleh pihak penjual. Isinya tentang kesanggupannya dalam menyetujui permintaan pihak pembeli.
  4. Penawaran. Bagian penawaran adalah puncak negosiasi antara pihak-pihak yang terkait.
  5. Persetujuan. Bagian ini merupakan capaian hasil akhir yang disetujui dan disanggupi bersama. Kedua pihak sepakat bahwa pada tidak ada yang dirugikan.
  6. Pembelian. Bagian pembelian adalah saat di mana transaksi jual-beli dilakukan setelah persetujuan tercapai.
  7. Penutup. Bagian ini berisi salam dan permintaan maaf serta ucapan terima kasih.

(Artikel Terkait: Contoh Teks Eksposisi)

Kaidah/Unsur Kebahasaan Teks Negosiasi

Kaidah Unsur Kebahasaan Teks Negosiasi

Kaidah bahasa Indonesia yang digunakan dalam teks negosiasi meliputi:

  1. Bahasa yang sopan.
  2. Ungkapan persuasif. Persuasif artinya ajakan atau bujukan agar upaya negosiasi menarik pihak lain.
  3. Ada pasangan tuturan.
  4. Argumen disampaikan secara bertahap dan didasari pada fakta yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
  5. Menyela argumen pihak lain tidak diperbolehkan.
  6. Meminta atau memberi alasan tentang suatu persetujuan. Contohnya, “Mengapa saya/Anda setuju/tidak setuju/dengan…” dan “Bagaimana bila…”
  7. Persetujuan akhir tidak menimbulkan kerugian bagi pihak manapun.
  8. Persetujuan bersifat mengikat. Ia harus dilakukan oleh semua pihak yang terkait tanpa kecuali.

(Artikel Terkait: Teks Biografi)

Ciri-Ciri Teks Negosiasi

Umumnya, ciri-ciri teks negosiasi adalah:

  1. Menghasilkan persetujuan yang saling menguntungkan.
  2. Mengutamakan kepentingan bersama.
  3. Media untuk mencari pemecahan.
  4. Mengarah pada maksud dan tujuan praktis.

Tujuan Teks Negosiasi

Adapun tujuan dari ditulisnya teks negosiasi, yaitu:

  1. Menyatukan perbedaan pendapat dan kepentingan antar pihak-pihak yang terkait.
  2. Mendapatkan kesepakatan yang saling menguntungkan.
  3. Mendapatkan penyelesaian bagi semua pihak.

Setelah membahas berbagai unsur penyusun teks negosiasi, maka selanjutnya mari menyimak beberaa contoh teks berikut ini.

1. Contoh Teks Negosiasi Jual Beli

Contoh Teks Negosiasi Jual Beli

Dalam jual-beli, terdapat aturan tidak tertulis yang harus dipatuhi oleh semua orang tanpa kecuali.

Salah satunya adalah tidak menawar barang yang masih ditawar oleh orang lain. Di bawah ini ialah contoh teks negosiasi jual-beli dengan menghadirkan situasi tersebut.

Pembeli 1: “Bu, petenya berapa?”

Penjual: “Satu tangkainya Rp15.000,00 Bu. Ini tinggal tiga tangkai, semua Rp45.000,00.”

Pembeli 1: “Harganya apa tidak bisa kurang? Saya tawar satu tangkainya Rp10.000,00 ya? Sekalian penghabisan.”

Penjual: “Maaf, tidak bisa, Bu. Saya beri Rp40.000,00 saja kalau ambil semua.”

Pembeli 2: “Bu, saya saja yang beli petenya dengan harga Rp15.000,00 per tangkai. Saya ambil dua tangkai.”

Penjual: “Maaf, Bu, tidak bisa begitu. Ibu ini yang menawar lebih dulu.”

Pembeli 2: “Tapi, saya setuju harga awal tanpa menawar.”

Penjual: “Mohon maaf, Bu, tapi aturan tawar-menawar memang begitu.”

Pembeli 1: “Ya sudah, Bu, saya setuju Rp40.000 untuk tiga tangkai. Saya ambil semuanya.”

Penjual: “Terima kasih, Bu.”

Pembeli 1: “Sama-sama, Bu.”

(Artikel Terkait: Contoh Dialog Interaktif)

2. Contoh Teks Negosiasi Singkat

Contoh Teks Negosiasi Singkat

Seorang penjual alat musik terlihat sedang membersihkan gitar dagangannya sebelum calon pembeli datang menghampiri tokonya.

Pembeli: “Pak, gitar yang ini berapa harganya? Saya tertarik mau membeli.”

Penjual: “Gitar itu Rp750.000,00, Nak.”

Pembeli: “Harganya apa tidak bisa kurang, Pak?”

Penjual: “Bisa kurang sedikit. Mau menawar berapa, Nak?”

Pembeli: “Rp600.000,00 ya, Pak. Bagaimana?”

Penjual: “Rp600.000,00 belum dapat, Nak.”

Pembeli: “Kalau begitu, Rp625.000,00 ya, Pak?”

Penjual: “Naikkan sedikit lagi, Nak. Rp650.000,00 saya lepas gitar itu.”

Pembeli: “Baik, Pak, saya setuju Rp650.000,00. Ini uangnya.”

Penjual: “Terima kasih, Nak.”

Pembeli: “Sama-sama, Pak.”

3. Contoh Teks Negosiasi Pemecahan Konflik

Contoh Teks Negosiasi Pemecahan Konflik

Pak Bagus memiliki tetangga baru di depan rumah bernama Pak Bagas yang membuka usaha bengkel las. Suara bengkel tersebut mengganggu bayi Pak Bagus yang butuh istirahat saat siang.

Pak Bagus: “Selamat siang, Pak Bagas. Maaf, saya mau membahas tentang suara bengkel Bapak yang mengganggu istirahat siang bayi saya.”

Pak Bagas: “Oh, iya, Pak Bagus. Saya minta maaf karena sudah mengganggu Bapak. Saya sedang mengusahakan untuk mengganti mesin las ini dengan yang baru. Suara mesin las baru lebih kecil dibandingkan dengan yang lama.”

Pak Bagus: “Oh, begitu. Terima kasih sudah mempertimbangkan hal tersebut, Pak. Saya meminta maaf karena telah datang dan menegur Pak Bagas seperti ini.”

Pak Bagas: “Tidak apa-apa, Pak, tidak masalah. Memang sudah seharusnya usaha saya tidak mengganggu siapapun. Namun, saya juga mempunyai solusi untuk Bapak. Pak Bagus dapat memindahkan bayi Bapak ke ruang yang letaknya lebih di dalam.”

Pak Bagus: “Iya, Pak, nanti saya akan memindahkan bayi saya ke ruang belakang. Terima kasih sudah memahami kondisi saya, Pak.”

Pak Bagas: “Sama-sama, Pak.”

4. Contoh Teks Negosiasi antara Pengusaha dan Bank

Contoh Teks Negosiasi antara Pengusaha dan Bank

Seorang pengusaha datang ke sebuah bank.

Pegawai Bank: “Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”

Pengusaha: “Begini, Pak, saya ingin mengajukan pinjaman modal sebanyak Rp50.000.000,00 untuk usaha saya. Namun saya Cuma memiliki motor sebagai jaminan.”

Pegawai Bank: “Oh, begitu. Mohon maaf, Pak, nilai pinjaman yang Bapak ajukan terlalu besar untuk jaminan sepeda motor. Paling banyak hanya Rp20.000.000,00 saja.”

Pengusaha: “Tidak bisa dilebihkan, ya, Pak, mengingat saya sudah cukup lama menjadi nasabah bank ini.”

Pegawai Bank: “Mohon maaf, tidak bisa, Pak. Ketentuan dari kantor pusat memang seperti itu. Jika ingin menambah nilai pengajuan pinjaman, maka Bapak dapat menjaminkan barang yang nilainya lebih besar.”

Pengusaha: “Oh, begitu, ya.”

Pegawai Bank: “Betul, Pak. Namun, mengingat usaha Bapak tergolong cukup lancar, kami bisa menambahkan nilai pinjamannya menjadi Rp30.000.000,00. Bapak dapat kembali lagi besok untuk mengurus persyaratannya.”

Pengusaha: “Baik, Pak, terima kasih banyak.”

Pegawai Bank: “Sama-sama, Pak.”

Setelah membaca empat contoh teks negosiasi sederhana di atas, kamu pasti menyadari bahwa hal tersebut merupakan interaksi sosial yang dekat sekali dengan keseharian.

Yang patut diperhatikan, semua negosiasi mencapai kesepakatan. Jika tidak, maka interaksi tersebut bukan negosiasi. Terima kasih sudah membaca!

Loading...