4 Rumah Adat Batak (Terkenal Kokoh Pondasinya)

Rumah adat Batak telah lama menjadi simbol budaya dan adat istiadat, selain sebagai tempat bernaung dan melakukan kegiatan sehari-hari. Uniknya, ada beragam jenis rumah adat Batak dengan nama yang berbeda. Perbedaan nama ini merujuk pada asal suku dari penghuni rumah.

Buat Anda yang punya silsilah keturunan Batak, paling tidak perlu tahu 4 jenis rumah suku Batak yang terkenal. Berikut keterangan mengenai rumah adat Batak akan kami ulas dalam artikel ini.

1. Rumah Adat Batak Toba

Rumah Adat Batak Toba

Rumah Batak Toba mempunyai ciri khas tanpa sekat atau dinding pembatas, berbeda dengan rumah adat Jawa Timur. Ruangan atau jabu dipisahkan dengan batas imajiner yang fungsi dan peruntukannya diatur dalam adat, dengan pembagian sebagai berikut:

  • Jabu Bona

Berada di sudut kanan belakang pintu masuk rumah. Ruang ini digunakan untuk tempat tidur penghuni rumah, tempat menerima tamu, serta untuk upacara adat.

  • Jabu Soding

Ruang ini berada di sudut kiri belakang pintu rumah. Fungsinya sebagai tempat bagi anak perempuan pemiliknya. Bagian ini juga menjadi tempat istri-istri tamu ketika melaksanakan upacara adat.

  • Jabu Suhat

Lokasinya di sudut kiri berdekatan dengan pintu masuk. Ruang ini diperuntukkan bagi keluarga dari anak sulung atau keluarga anak bungsu. Ketika anak sulung merantau maka ruangan ini dihuni oleh anak bungsu.

  • Jabu Tampar Piring

Berada di sudut kanan depan dekat pintu masuk. Digunakan oleh saudara laki-laki dari istri pemilik rumah yang sudah menikah. Bisa juga menjadi tempat untuk saudara semarga yang bungsu dan tempat bagi teman sekampung.

  • Jabu Tonga-Tonga

Terletak di antara jabu bona dan jabu tampar piring, fungsinya untuk tempat berkumpul seluruh keluarga dan dapur.

Perlu Anda ketahui bahwa rumah tradisional Batak Toba tidak memiliki sekat yang memisahkan setiap bagian ruangan.

2. Rumah Adat Batak Karo

Rumah Adat Batak Karo

Rumah adat Batak Karo digolongkan sesuai dengan jenis teknik konstruksi yang dipakai untuk pondasi dan atap. Atap menggambarkan status sosial pemilik rumah. Atap rumah Batak Karo lebih besar dan berat dibandingkan dengan rumah Batak Toba. Susunan atapnya pun lebih rumit.

Rumah suku Karo dapat menampung 8 sampai 12 keluarga yang berbaris pada lorong utama. Lorong ini menghubungkan dua pintu di kedua ujung bangunan. Pembagian ruang setiap keluarga diatur menurut adat dengan perapian untuk 2 keluarga.

3. Rumah Batak Simalungun

Rumah Adat Batak Simalungun

Rumah adat Simalungun juga dikenal dengan nama rumah bolon. Bolon berarti besar, sehingga rumah bolon berarti rumah besar. Rumah tersebut berbentuk panggung seperti rumah gadang, dengan lantai disangga oleh balok-balok besar yang berjajar horizontal dan bersilangan.

Bentuk dinding agak miring dengan sedikit jendela. Bagian atap mempunyai kemiringan curam yang berbentuk perisai di bagian bawah. Sisi atas atap berbentuk pelana dengan gevel menghadap ke bawah. Ujung atas gevel dihiasi dengan kepala kerbau.

Konstruksi rumah ini dibangun tanpa paku, melainkan dengan pasak dan tali. Sebagai dekorasi, rumah dihias dengan gambar dan ukiran berwarna merah, hitam, dan putih.

4. Rumah Adat Batak Pakpak

Rumah adat Pakpak digunakan sebagai tempat bermusyawarah tentang kepentingan umum dan upacara adat. Rumah ini berbahan kayu dengan atap dari ijuk, hampir mirip dengan rumah adat Papua.

Bubungan atap berbentuk melengkung. Bentuk ini menjadi simbol berani menanggung risiko berat dalam mempertahankan adat. Tampuk bubungan memiliki simbol caban sebagai simbol kepercayaan suku Pakpak, sedangkan tanduk kerbau sebagai simbol kepahlawanan.

Itulah keterangan dari 4 jenis rumah adat Batak yang harus Anda ketahui. Sayangnya, saat ini keberadaan rumah adat tersebut makin langka, sehingga sebagian dijadikan museum atau tempat wisata.